Senin, 01 November 2010
Puisi
Puisi Rindu Padamu
Aku tak pernah berlari meninggalkanmu !
Melangkah menjauhi pun tak pernah terlintas
Aku masih disini…. Aku masih ada…
Namun sebait pun kini tak sempat lagi kubuat
Setiap hari kuhanya bisa berkata pada hati
Besok mungkin dapat kuluangkan waktu lagi
Tuk menulis tentang hati…
Dalam sebentuk puisi
Nyatanya aku tak pernah sempat
Ragaku s’lalu saja terlebih dahulu penat
Sehingga asa dan rasa tak pernah sempat
Dapatkan waktu yang tepat untuk puisi-puisi baru kubuat
Hingga sekali lagi di pagi ini
Kerinduan pada puisi kembali menjadi
Curahan hatiku dalam sebentuk puisi
Semoga esok aku bisa segera kembali
Aku tak pernah berlari meninggalkanmu !
Melangkah menjauhi pun tak pernah terlintas
Aku masih disini…. Aku masih ada…
Namun sebait pun kini tak sempat lagi kubuat
Setiap hari kuhanya bisa berkata pada hati
Besok mungkin dapat kuluangkan waktu lagi
Tuk menulis tentang hati…
Dalam sebentuk puisi
Nyatanya aku tak pernah sempat
Ragaku s’lalu saja terlebih dahulu penat
Sehingga asa dan rasa tak pernah sempat
Dapatkan waktu yang tepat untuk puisi-puisi baru kubuat
Hingga sekali lagi di pagi ini
Kerinduan pada puisi kembali menjadi
Curahan hatiku dalam sebentuk puisi
Semoga esok aku bisa segera kembali
Tulisan Atau Puisi
Tak Pernah Berlalu
Mungkin aku memang lemah
Mungkin aku tak pernah punyai lelah
Saat ku terdiam menangisi pergimu
Terus ku terpaku oleh harapan semu
Sepertinya… t’lah cukup banyak kutulis
T’lah cukup dalam hati ini kuiris
Agar bisa kucoba lagi cinta dari mula
Dengan ia yang mampu merasakannya
Namun cinta untukmu terus bertahan
Di sekeping sisa hati ini pun cinta untukmu kurasakan
Kerinduan hadirmu tak pernah bisa hilang
Oh Tuhan… bagaimana semua ini harus kuartikan ?
Mungkin aku memang lemah
Mungkin aku tak pernah punyai lelah
Saat ku terdiam menangisi pergimu
Terus ku terpaku oleh harapan semu
Sepertinya… t’lah cukup banyak kutulis
T’lah cukup dalam hati ini kuiris
Agar bisa kucoba lagi cinta dari mula
Dengan ia yang mampu merasakannya
Namun cinta untukmu terus bertahan
Di sekeping sisa hati ini pun cinta untukmu kurasakan
Kerinduan hadirmu tak pernah bisa hilang
Oh Tuhan… bagaimana semua ini harus kuartikan ?
Minggu, 28 Februari 2010
PEMASARAN USAHA SYARIAH
PEMASARAN USAHA SYARIAH
PAPER
DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS SEMESTER GENAP
MATA KULIAH PERDAGANGAN INTERNASIONAL
OLEH
NAMA : NIKA SARTIKA
KELAS : 2 DD 03
NPM : 30208882
UNIVERSITAS GUNADARMA
2010
PEMASARAN USAHA SYARIAH
Pemasaran Usaha Syariah
Pembagian segmen pasar rasional dan pasar emosional:
Pasar Emosional
Diartikan sebagai kumpulan pelanggan yang datang ke perusahaan atau lembaga keuangan syariah karena pertimbangan halal-haram, didorong oleh kekhawatiran akan praktek riba dan konsiderasi ukhrawi lainnya. Pasar ini kurang memperhatikan harga dan kualitas pelayanan, demikian pula tersedianya jaringan kerja yang memadai.
Pasar rasional
Pasar rasional yang secara umum adalah mereka sangat sensitif terhadap perbedaan harga, varietas produk, bonafiditas lembaga keuangan dan lebih utama kualitas layanan. Kelompok pasar rasional memiliki pandangan bahwa boleh syariah dan halal asal kompetitif, namun bila tidak terpaksa mencari yang lain. Kedua segmen pasar ini jelas ada plus-minusnya ada yang setuju dan ada pula tidak setuju karena sulit menerima asumsi bahwa mereka yang datang karena konsiderasi spritual adalah blindly emotional market.
Diferensiasi pasar rasional dan pasar emosional kuranglah tepat jika dinisbatkan pada Umat Islam. Munculnya perbedaan pasar rasional dan pasar emosional sesungguhnya berawal karena market share di industri perbankan syariah relatif masih kecil baru pada kisaran angka 1,7 persen. Bank Indonesia (BI) telah membidik target market share di industri perbankan syariah pada 2008 pada angka 5%.
Pada bagian akhir bukunya, penulis yang kelahiran Jeneponto, Sulawesi Selatan ini menggambarkan profil seorang pemasar syariah.
Syariah marketer melakukan bisnis secara profesional dengan nilai-nilai yang menjadi landasan:
1. Memiliki kepribadian spritual (taqwa)
Seorang pemasar syariah diperintahkan untuk selalu mengingat kepada Allah Swt walaupun sedang sibuk dalam aktifitas pemasarannya.
2. Berperilaku baik dan simpatik (sidiq)
Seorang pemasar syariah senantiasa berwajah manis, berperilaku baik, simpatik dan rendah hati dalam menciptakan nilai pelanggan unggul
3. Berlaku adil
Dalam memasarkan produk (al adil) karena Allah Swt mencintai orang-orang yang berbuat adil membenci orang-orang yang berbuat zalim
4. Melayani pelanggan dengan senyum dan rendah hati (khidmat)
Sikap melayani adalah sikap utama seorang pemsar syariah
5. Menepati janji dan tidak curang (tahfif)
Seorang pemasar syariah harus dapat menjaga amanah dan kepercayaan yang diberikan
kepadanya sebagai wakil dari perusahaan dalam memasarkan dan mempromosikan produk kepada pelanggan
6. Jujur dan terpercaya (al-amanah)
Seorang pemasar syariah haruslah dapat dipercaya dalam memegang amanah
7. Tidak suka berburuk sangka (su’uzhzhann)
Islam mengajarkan kepada kita untuk saling menghormati satu sama lain dalam melakukan aktifitas pemasaran
8. Tidak menjelek-jelekkan (ghibah)
Seorang pemasar syariah dilarang ghibah atau menjelek-jelekkan pesaing bisnis lain karena
ghibah artinya keinginan untuk menghancurkan orang, menodai harga diri, kemuliaan dan kehormatan orang lain
9. Tidak melakukan sogok (risywah)
Menyogok dalam perspektif syariah hukumnya haram dan termasuk dalam kategori
memakan harta orang lain dengan cara batil.
Marketing Syariah
Market Syariah sendiri menurut definisi adalah penerapan suatu disiplin bisnis strategis yang sesuai dengan nilai dan prinsip syariah. Jadi marketing syariah dijalankan berdasarkan konsep keislaman yang telah diajarkan Nabi Muhammad SAW. Menurut Hermawan Kartajaya, nilai inti dari marketing syariah adalah Integritas dan transparansi, sehingga marketer tidak boleh bohong dan orang membeli karena butuh dan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan, bukan karena diskonnya.
Pemasaran adalah garis depan suatu bisnis, mereka adalah orang-orang yang bertemu langsung dengan konsumen sehingga setiap tindakan dan ucapannya berarti menunjukkan citra dari barang dan perusahaan. Namun sayangnya pandangan masyarakat saat ini menganggap pemasaran di identikkan dengan penjual yang dekat dengan kecurangan, penipuan, paksaan dan lainnya yang telah memperburuk citra seorang pemasar. Tidak terelakkan lagi banyak promosi usaha-usaha yang kita lihat sehari-hari tidak menjelaskan secara detail tentang produknya, yang mereka harapkan adalah konsumen membeli produk mereka dan banyak dari konsumen merasa tertipu atau dibohongi ketika mencoba produk yang dijual pemasar tersebut. Apabila ini terus berlanjut maka akan mungkin terjadi lagi kasus seperti Enron, Worldcom dan lainnya yang akan menghancurkan sebuah perusahaan. Sekarang jelaslah akan pentingnya sebuah nilai integritas dan transparansi seperti yang dikatakan Hermawan Kartajaya diatas agar bisnis berjalan lancar.
Konsep Marketing Syariah
Kosep Marketing Syariah sendiri sebenarnya tidak berbeda jauh dari konsep pemasaran yang kita kenal. Konsep pemasaran yang kita kenal sekarang, pemasaran adalah sebuah ilmu dan seni yang mengarah pada proses penciptaan, penyampaian, dan pengkomunikasian values kepada para konsumen serta menjaga hubungan dengan para stakeholdersnya. Namun pemasaran sekarang menurut Hermawan juga ada sebuah kelirumologi yang diartikan untuk membujuk orang belanja sebanyak-banyaknya atau pemasaran yang pada akhirnya membuat kemasan sebaik-baiknya padahal produknya tidak bagus atau membujuk dengan segala cara agar orang mau bergabung dan belanja. Berbedanya adalah Marketing syariah mengajarkan pemasar untuk jujur pada konsumen atau orang lain. Nilai-nilai syariah mencegah pemasar terperosok pada kelirumologi itu tadi karena ada nilai-nilai yang harus dijunjung oleh seorang pemasar.
Marketing syariah bukan hanya sebuah marketing yang ditambahkan syariah karena ada nilai-nilai lebih pada marketing syariah saja, tetapi lebih jauhnya marketing berperan dalam syariah dan syariah berperan dalam marketing. Marketing berperan dalam syariah diartikan perusahaan yang berbasis syariah diharapkan dapat bekerja dan bersikap profesional dalam dunia bisnis, karena dengan profesionalitas dapat menumbuhkan kepercayaan kosumen. Syariah berperan dalam marketing bermakna suatu pemahaman akan pentingnya nilai-nilai etika dan moralitas pada pemasaran, sehingga diharapkan perusahaan tidak akan serta merta menjalankan bisnisnya demi keuntungan pribadi saja ia juga harus berusaha untuk menciptakan dan menawarkan bahkan dapat merubah suatu values kepada para stakeholders sehingga perusahaan tersebut dapat menjaga keseimbangan laju bisnisnya sehingga menjadi bisnis yang sustainable.
Dalam hal teknisnya marketing syariah, salah satunya terdapat syariah marketing strategy untuk memenangkan mind-share dan syariah marketing value untuk memenangkan heart-share. Syariah marketing strategy melakukan segmenting, targeting dan positioning market dengan melihat pertumbuhan pasar, keunggulan kompetitif, dan situasi persaingan sehingga dapat melihat potensi pasar yang baik agar dapat memenangkan mind-share. Selanjutnya syariah marketing value melihat brand sebagai nama baik yang menjadi identitas seseorang atau perusahaan, sehingga contohnya perusahaan yang mendapatkan best customer service dalam bisnisnya sehingga mampu mendapatkan heart-share.
Konsep marketing syariah ini sendiri saat ini baru berkembang seiring berkembangnya ekonomi syariah. Beberapa perusahaan dan bank khususnya yang berbasis syariah telah menerapkan konsep ini dan telah mendapatkan hasil yang positif. Kedepannya diprediksikan marketing syariah ini akan terus berkembang dan dipercaya masyarakat karena nilai-nilainya yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan masyarakat yaitu kejujuran.
ASIKNYA MUDIK BERSAMA MPP SYARIAH
Satu pengalaman yang tak akan dilupakan, saat sedang bersilaturahmi keluar kota bersama keluarga masih dalam suasana lebaran, sebuah pengalaman unik yang bisa kita contoh untuk anda yang belum bergabung dalam bisnis pulsa elektrik berbasis Syariah yang pertama di Indonesia ini.
Saat komunikasi untuk memberitahukan teman, keluarga atau juga untuk sekedar menerima sms ucapan selamat melalui HP kita, secara tiba-tiba kita membutuhkan sarana pulsa untuk bisa melakukan komunikasi yang diperlukan.
Di tengah penatnya suasana macet akibat libur lebaran di luar kota, sehingga tidak memungkinkan kita harus berhenti sejenak untuk mengisi pulsa, karena jelas bila hal ini dilakukan akan memakan waktu dan tentu saja perjalanan kita sedikit tergantung karenanya.
Disaat kita sedang membutuhkan sarana berupa pulsa elektrik dalam perjalanan dan tidak ada waktu untuk berhenti sejenak di counter hanya untuk mengisi pulsa, maka karena adanya deposit pulsa yang kita miliki, maka kita bisa mengisi sendiri pulsa HP kita tanpa harus berhenti mampir dulu di counter.Inilah mungkin salah satu manfaat dari kegunaan kita bergabung dalam bisnis pulsa elektrik. Apalagi bisnis pulsa elektrik yang berbasis Syariah ini adalah yang pertama di Indonesia.
Karena kita memiliki deposit pulsa yang terisi dengan sendirinya, karena akumulasi dari pengembangan dan bonus yang kita dapatkan, maka kita dapat pengisi pulsa HP kita dimanapun, kapanpun bahkan saat kita sedang antri dalam kemacetan saat libur lebaran kemarin Nah inilah salah satu manfaat dari kita bergabung dalam bisnis pemasaran pulsa elektrik. Jadi dalam hal ini kita memanfaatkan deposit pulsa di HP kita untuk keperluan kita sendiri, bukan untuk diperjual belikan kepada orang lain.
Memang tidak ada larangan dalam suatu bisnis pemasaran pulsa elektrik untuk memperjual belikan deposit pulsa yang kita miliki, sehingga dengan demikian selain kita mendapat bonus transaksi juga kita mendapat tambahan penghasilan dari penjualan pulsa tersebut.Tapi lebih dari itu adalah kita bisa memanfaatkan deposit pulsa yang kita miliki ini, untuk kepentingan kita sendiri. sehingga pada saat kita membutuhkannya, tidak perlu repot-repot harus mengisi pulsa di counter terlebih dahulu, apalagi saat dalam perjalanan mudik seperti saat libur lebaran kemarin ini.
Ayo..siapa yang belum bergabung dalam bisnis pemasaran pulsa elektrik berbasis Syariah yang pertama di Indonesia bersama MPP Syariah?
Dengan anda bergabung dalam bisnis pemasaran pulsa eletkrik ini, banyak sekali manfaat yang bisa kita peroleh, salah satunya adalah kemudahan dalam hal kebutuhan pulsa untuk HP kita.Jadi adalah salah bila anda bergabung dalam bisnis pemasaran pulsa eletkrik untuk anda pergunakan sebagai sarana jualbeli pulsa di counter-counter. Walaupun untuk menjual deposit pulsa yang kita miliki adalah tidak dilarang dalam pola marketing plan di bisnis pulsa ini.
Saya sudah merasakan sendiri manfaat dari bergabungnya dalam bisnis pemasaran pulsa elektrik ini, nah bagaimana dengan anda sendiri?
Sebagai alternatif untuk bergabung dalam bisnis pemasaran pulsa elektrik, maka saya sangat merekomendasikan kepada anda untuk bergabung dalam MPP Syariah, sama seperti yang saya lakukan saat ini.Untuk informasi lebih lanjut tentang MPP Syariah, silahkan anda pelajari sendiri di website support kami di http://mlmsyariah.co.ccYang pasti dengan anda bergabung dalam mlm pulsa eletkrik di MPP Syariah ini, akan banyak sekali manfaat yang bisa anda dapatkan, selain tentu saja berbagi bonus yang cukup besar dan menarik bila anda menjalankan bisnis secara lebih serius dan konsisten.Tidak perlu ragu untuk bergabung dalam bisnis seperti ini, karena untuk saat ini peluang bisnis yang sangat berpotensi adalah dalam bentuk pulsa elektrik yang sangat sayang kalo tidak kita manfaatkan sebagai tambahan untuk sumber penghasilan kita setiap bulannya.
PAPER
DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS SEMESTER GENAP
MATA KULIAH PERDAGANGAN INTERNASIONAL
OLEH
NAMA : NIKA SARTIKA
KELAS : 2 DD 03
NPM : 30208882
UNIVERSITAS GUNADARMA
2010
PEMASARAN USAHA SYARIAH
Pemasaran Usaha Syariah
Pembagian segmen pasar rasional dan pasar emosional:
Pasar Emosional
Diartikan sebagai kumpulan pelanggan yang datang ke perusahaan atau lembaga keuangan syariah karena pertimbangan halal-haram, didorong oleh kekhawatiran akan praktek riba dan konsiderasi ukhrawi lainnya. Pasar ini kurang memperhatikan harga dan kualitas pelayanan, demikian pula tersedianya jaringan kerja yang memadai.
Pasar rasional
Pasar rasional yang secara umum adalah mereka sangat sensitif terhadap perbedaan harga, varietas produk, bonafiditas lembaga keuangan dan lebih utama kualitas layanan. Kelompok pasar rasional memiliki pandangan bahwa boleh syariah dan halal asal kompetitif, namun bila tidak terpaksa mencari yang lain. Kedua segmen pasar ini jelas ada plus-minusnya ada yang setuju dan ada pula tidak setuju karena sulit menerima asumsi bahwa mereka yang datang karena konsiderasi spritual adalah blindly emotional market.
Diferensiasi pasar rasional dan pasar emosional kuranglah tepat jika dinisbatkan pada Umat Islam. Munculnya perbedaan pasar rasional dan pasar emosional sesungguhnya berawal karena market share di industri perbankan syariah relatif masih kecil baru pada kisaran angka 1,7 persen. Bank Indonesia (BI) telah membidik target market share di industri perbankan syariah pada 2008 pada angka 5%.
Pada bagian akhir bukunya, penulis yang kelahiran Jeneponto, Sulawesi Selatan ini menggambarkan profil seorang pemasar syariah.
Syariah marketer melakukan bisnis secara profesional dengan nilai-nilai yang menjadi landasan:
1. Memiliki kepribadian spritual (taqwa)
Seorang pemasar syariah diperintahkan untuk selalu mengingat kepada Allah Swt walaupun sedang sibuk dalam aktifitas pemasarannya.
2. Berperilaku baik dan simpatik (sidiq)
Seorang pemasar syariah senantiasa berwajah manis, berperilaku baik, simpatik dan rendah hati dalam menciptakan nilai pelanggan unggul
3. Berlaku adil
Dalam memasarkan produk (al adil) karena Allah Swt mencintai orang-orang yang berbuat adil membenci orang-orang yang berbuat zalim
4. Melayani pelanggan dengan senyum dan rendah hati (khidmat)
Sikap melayani adalah sikap utama seorang pemsar syariah
5. Menepati janji dan tidak curang (tahfif)
Seorang pemasar syariah harus dapat menjaga amanah dan kepercayaan yang diberikan
kepadanya sebagai wakil dari perusahaan dalam memasarkan dan mempromosikan produk kepada pelanggan
6. Jujur dan terpercaya (al-amanah)
Seorang pemasar syariah haruslah dapat dipercaya dalam memegang amanah
7. Tidak suka berburuk sangka (su’uzhzhann)
Islam mengajarkan kepada kita untuk saling menghormati satu sama lain dalam melakukan aktifitas pemasaran
8. Tidak menjelek-jelekkan (ghibah)
Seorang pemasar syariah dilarang ghibah atau menjelek-jelekkan pesaing bisnis lain karena
ghibah artinya keinginan untuk menghancurkan orang, menodai harga diri, kemuliaan dan kehormatan orang lain
9. Tidak melakukan sogok (risywah)
Menyogok dalam perspektif syariah hukumnya haram dan termasuk dalam kategori
memakan harta orang lain dengan cara batil.
Marketing Syariah
Market Syariah sendiri menurut definisi adalah penerapan suatu disiplin bisnis strategis yang sesuai dengan nilai dan prinsip syariah. Jadi marketing syariah dijalankan berdasarkan konsep keislaman yang telah diajarkan Nabi Muhammad SAW. Menurut Hermawan Kartajaya, nilai inti dari marketing syariah adalah Integritas dan transparansi, sehingga marketer tidak boleh bohong dan orang membeli karena butuh dan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan, bukan karena diskonnya.
Pemasaran adalah garis depan suatu bisnis, mereka adalah orang-orang yang bertemu langsung dengan konsumen sehingga setiap tindakan dan ucapannya berarti menunjukkan citra dari barang dan perusahaan. Namun sayangnya pandangan masyarakat saat ini menganggap pemasaran di identikkan dengan penjual yang dekat dengan kecurangan, penipuan, paksaan dan lainnya yang telah memperburuk citra seorang pemasar. Tidak terelakkan lagi banyak promosi usaha-usaha yang kita lihat sehari-hari tidak menjelaskan secara detail tentang produknya, yang mereka harapkan adalah konsumen membeli produk mereka dan banyak dari konsumen merasa tertipu atau dibohongi ketika mencoba produk yang dijual pemasar tersebut. Apabila ini terus berlanjut maka akan mungkin terjadi lagi kasus seperti Enron, Worldcom dan lainnya yang akan menghancurkan sebuah perusahaan. Sekarang jelaslah akan pentingnya sebuah nilai integritas dan transparansi seperti yang dikatakan Hermawan Kartajaya diatas agar bisnis berjalan lancar.
Konsep Marketing Syariah
Kosep Marketing Syariah sendiri sebenarnya tidak berbeda jauh dari konsep pemasaran yang kita kenal. Konsep pemasaran yang kita kenal sekarang, pemasaran adalah sebuah ilmu dan seni yang mengarah pada proses penciptaan, penyampaian, dan pengkomunikasian values kepada para konsumen serta menjaga hubungan dengan para stakeholdersnya. Namun pemasaran sekarang menurut Hermawan juga ada sebuah kelirumologi yang diartikan untuk membujuk orang belanja sebanyak-banyaknya atau pemasaran yang pada akhirnya membuat kemasan sebaik-baiknya padahal produknya tidak bagus atau membujuk dengan segala cara agar orang mau bergabung dan belanja. Berbedanya adalah Marketing syariah mengajarkan pemasar untuk jujur pada konsumen atau orang lain. Nilai-nilai syariah mencegah pemasar terperosok pada kelirumologi itu tadi karena ada nilai-nilai yang harus dijunjung oleh seorang pemasar.
Marketing syariah bukan hanya sebuah marketing yang ditambahkan syariah karena ada nilai-nilai lebih pada marketing syariah saja, tetapi lebih jauhnya marketing berperan dalam syariah dan syariah berperan dalam marketing. Marketing berperan dalam syariah diartikan perusahaan yang berbasis syariah diharapkan dapat bekerja dan bersikap profesional dalam dunia bisnis, karena dengan profesionalitas dapat menumbuhkan kepercayaan kosumen. Syariah berperan dalam marketing bermakna suatu pemahaman akan pentingnya nilai-nilai etika dan moralitas pada pemasaran, sehingga diharapkan perusahaan tidak akan serta merta menjalankan bisnisnya demi keuntungan pribadi saja ia juga harus berusaha untuk menciptakan dan menawarkan bahkan dapat merubah suatu values kepada para stakeholders sehingga perusahaan tersebut dapat menjaga keseimbangan laju bisnisnya sehingga menjadi bisnis yang sustainable.
Dalam hal teknisnya marketing syariah, salah satunya terdapat syariah marketing strategy untuk memenangkan mind-share dan syariah marketing value untuk memenangkan heart-share. Syariah marketing strategy melakukan segmenting, targeting dan positioning market dengan melihat pertumbuhan pasar, keunggulan kompetitif, dan situasi persaingan sehingga dapat melihat potensi pasar yang baik agar dapat memenangkan mind-share. Selanjutnya syariah marketing value melihat brand sebagai nama baik yang menjadi identitas seseorang atau perusahaan, sehingga contohnya perusahaan yang mendapatkan best customer service dalam bisnisnya sehingga mampu mendapatkan heart-share.
Konsep marketing syariah ini sendiri saat ini baru berkembang seiring berkembangnya ekonomi syariah. Beberapa perusahaan dan bank khususnya yang berbasis syariah telah menerapkan konsep ini dan telah mendapatkan hasil yang positif. Kedepannya diprediksikan marketing syariah ini akan terus berkembang dan dipercaya masyarakat karena nilai-nilainya yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan masyarakat yaitu kejujuran.
ASIKNYA MUDIK BERSAMA MPP SYARIAH
Satu pengalaman yang tak akan dilupakan, saat sedang bersilaturahmi keluar kota bersama keluarga masih dalam suasana lebaran, sebuah pengalaman unik yang bisa kita contoh untuk anda yang belum bergabung dalam bisnis pulsa elektrik berbasis Syariah yang pertama di Indonesia ini.
Saat komunikasi untuk memberitahukan teman, keluarga atau juga untuk sekedar menerima sms ucapan selamat melalui HP kita, secara tiba-tiba kita membutuhkan sarana pulsa untuk bisa melakukan komunikasi yang diperlukan.
Di tengah penatnya suasana macet akibat libur lebaran di luar kota, sehingga tidak memungkinkan kita harus berhenti sejenak untuk mengisi pulsa, karena jelas bila hal ini dilakukan akan memakan waktu dan tentu saja perjalanan kita sedikit tergantung karenanya.
Disaat kita sedang membutuhkan sarana berupa pulsa elektrik dalam perjalanan dan tidak ada waktu untuk berhenti sejenak di counter hanya untuk mengisi pulsa, maka karena adanya deposit pulsa yang kita miliki, maka kita bisa mengisi sendiri pulsa HP kita tanpa harus berhenti mampir dulu di counter.Inilah mungkin salah satu manfaat dari kegunaan kita bergabung dalam bisnis pulsa elektrik. Apalagi bisnis pulsa elektrik yang berbasis Syariah ini adalah yang pertama di Indonesia.
Karena kita memiliki deposit pulsa yang terisi dengan sendirinya, karena akumulasi dari pengembangan dan bonus yang kita dapatkan, maka kita dapat pengisi pulsa HP kita dimanapun, kapanpun bahkan saat kita sedang antri dalam kemacetan saat libur lebaran kemarin Nah inilah salah satu manfaat dari kita bergabung dalam bisnis pemasaran pulsa elektrik. Jadi dalam hal ini kita memanfaatkan deposit pulsa di HP kita untuk keperluan kita sendiri, bukan untuk diperjual belikan kepada orang lain.
Memang tidak ada larangan dalam suatu bisnis pemasaran pulsa elektrik untuk memperjual belikan deposit pulsa yang kita miliki, sehingga dengan demikian selain kita mendapat bonus transaksi juga kita mendapat tambahan penghasilan dari penjualan pulsa tersebut.Tapi lebih dari itu adalah kita bisa memanfaatkan deposit pulsa yang kita miliki ini, untuk kepentingan kita sendiri. sehingga pada saat kita membutuhkannya, tidak perlu repot-repot harus mengisi pulsa di counter terlebih dahulu, apalagi saat dalam perjalanan mudik seperti saat libur lebaran kemarin ini.
Ayo..siapa yang belum bergabung dalam bisnis pemasaran pulsa elektrik berbasis Syariah yang pertama di Indonesia bersama MPP Syariah?
Dengan anda bergabung dalam bisnis pemasaran pulsa eletkrik ini, banyak sekali manfaat yang bisa kita peroleh, salah satunya adalah kemudahan dalam hal kebutuhan pulsa untuk HP kita.Jadi adalah salah bila anda bergabung dalam bisnis pemasaran pulsa eletkrik untuk anda pergunakan sebagai sarana jualbeli pulsa di counter-counter. Walaupun untuk menjual deposit pulsa yang kita miliki adalah tidak dilarang dalam pola marketing plan di bisnis pulsa ini.
Saya sudah merasakan sendiri manfaat dari bergabungnya dalam bisnis pemasaran pulsa elektrik ini, nah bagaimana dengan anda sendiri?
Sebagai alternatif untuk bergabung dalam bisnis pemasaran pulsa elektrik, maka saya sangat merekomendasikan kepada anda untuk bergabung dalam MPP Syariah, sama seperti yang saya lakukan saat ini.Untuk informasi lebih lanjut tentang MPP Syariah, silahkan anda pelajari sendiri di website support kami di http://mlmsyariah.co.ccYang pasti dengan anda bergabung dalam mlm pulsa eletkrik di MPP Syariah ini, akan banyak sekali manfaat yang bisa anda dapatkan, selain tentu saja berbagi bonus yang cukup besar dan menarik bila anda menjalankan bisnis secara lebih serius dan konsisten.Tidak perlu ragu untuk bergabung dalam bisnis seperti ini, karena untuk saat ini peluang bisnis yang sangat berpotensi adalah dalam bentuk pulsa elektrik yang sangat sayang kalo tidak kita manfaatkan sebagai tambahan untuk sumber penghasilan kita setiap bulannya.
Sabtu, 13 Februari 2010
Pemasaran usaha syariah
NAMA : NIKA SARTIKA
KELAS : 2 DD 03
NPM : 30208882
PEMASARAN USAHA SYARIAH
Akhir-akhir ini sebuah konsep marketing syariah mulai merebak di instansi-instansi bisnis syariah. Konsep marketing syariah ini mulai mengemuka ketika bisnis asuransi mulai membuka bisnis syariah.
Marketing syariah sendiri menurut definisi adalah adalah penerapan suatu disiplin bisnis strategis yang sesuai dengan nilai dan prinsip syariah. Jadi marketing syariah dijalankan berdasarkan konsep keislaman yang telah diajarkan Nabi Muhammad SAW. Menurut Hermawan Kartajaya, nilai inti dari marketing syariah adalah Integritas dan transparansi, sehingga marketer tidak boleh bohong dan orang membeli karena butuh dan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan, bukan karena diskonnya.
Pemasar adalah garis depan suatu bisnis, mereka adalah orang-orang yang bertemu langsung dengan konsumen sehingga setiap tindakan dan ucapannya berarti menunjukkan citra dari barang dan perusahaan. Namun sayangnya pandangan masyarakat saat ini menganggap pemasar diidentikkan dengan penjual yang dekat dengan kecurangan, penipuan, paksaan dan lainnya yang telah memperburuk citra seorang pemasar. Tidak terelakkan lagi banyak promosi usaha-usaha yang kita lihat sehari-hari tidak menjelaskan secara detail tentang produknya, yang mereka harapkan adalah konsumen membeli produk mereka dan banyak dari konsumen merasa tertipu atau dibohongi ketika mencoba produk yang dijual pemasar tersebut. Apabila ini terus berlanjut maka akan mungkin terjadi lagi kasus seperti Enron, Worldcom dan lainnya yang akan menghancurkan sebuah perusahaan. Sekarang jelaslah akan pentingnya sebuah nilai integritas dan transparansi seperti yang dikatakan Hermawan Kartajaya diatas agar bisnis berjalan lancar.
Konsep marketing syariah sendiri sebenarnya tidak berbeda jauh dari konsep pemasaran yang kita kenal. Konsep pemasaran yang kita kenal sekarang, pemasaran adalah sebuah ilmu dan seni yang mengarah pada proses penciptaan, penyampaian, dan pengkomunikasian values kepada para konsumen serta menjaga hubungan dengan para stakeholdersnya. Namun pemasaran sekarang menurut Hermawan juga ada sebuah kelirumologi yang diartikan untuk membujuk orang belanja sebanyak-banyaknya atau pemasaran yang pada akhirnya membuat kemasan sebaik-baiknya padahal produknya tidak bagus atau membujuk dengan segala cara agar orang mau bergabung dan belanja. Berbedanya adalah marketing syariah mengajarkan pemasar untuk jujur pada konsumen atau orang lain. Nilai-nilai syariah mencegah pemasar terperosok pada kelirumologi itu tadi karena ada nilai-nilai yang harus dijunjung oleh seorang pemasar.
Marketing syariah bukan hanya sebuah marketing yang ditambahkan syariah karena ada nilai-nilai lebih pada marketing syariah saja, tetapi lebih jauhnya marketing berperan dalam syariah dan syariah berperan dalam marketing. Marketing berperan dalam syariah diartikan perusahaan yang berbasis syariah diharapkan dapat bekerja dan bersikap profesional dalam dunia bisnis, karena dengan profesionalitas dapat menumbuhkan kepercayaan kosumen. Syariah berperan dalam marketing bermakna suatu pemahaman akan pentingnya nilai-nilai etika dan moralitas pada pemasaran, sehingga diharapkan perusahaan tidak akan serta merta menjalankan bisnisnya demi keuntungan pribadi saja ia juga harus berusaha untuk menciptakan dan menawarkan bahkan dapat merubah suatu values kepada para stakeholders sehingga perusahaan tersebut dapat menjaga keseimbangan laju bisnisnya sehingga menjadi bisnis yang sustainable.
Dalam hal teknisnya marketing syariah, salah satunya terdapat syariah marketing strategy untuk memenangkan mind-share dan syariah marketing value untuk memenangkan heart-share. Syariah marketing strategy melakukan segmenting, targeting dan positioning market dengan melihat pertumbuhan pasar, keunggulan kompetitif, dan situasi persaingan sehingga dapat melihat potensi pasar yang baik agar dapat memenangkan mind-share. Selanjutnya syariah marketing value melihat brand sebagai nama baik yang menjadi identitas seseorang atau perusahaan, sehingga contohnya perusahaan yang mendapatkan best customer service dalam bisnisnya sehingga mampu mendapatkan heart-share.
Konsep marketing syariah ini sendiri saat ini baru berkembang seiring berkembangnya ekonomi syariah. Beberapa perusahaan dan bank khususnya yang berbasis syariah telah menerapkan konsep ini dan telah mendapatkan hasil yang positif. Kedepannya diprediksikan marketing syariah ini akan terus berkembang dan dipercaya masyarakat karena nilai-nilainya yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan masyarakat yaitu kejujuran.
PEMASARAN PRODUK BANK SYARIAH BERBASIS JARINGAN MASJID
Strategi Pemasaran merupakan suatu alat/teknik untuk mencapai tujuan bagi sebuah perusahaan yang berkaitan dengan berbagai faktor seperti social, budaya, politik, ekonomi, dan manajerial. Akibat dari pengaruh berbagai faktor tersebut maka masing-masing individu maupun kelompok mendapatkan kebutuhan dan keinginan dengan menciptakan, menawarkan, dan menukarkan produk yang memiliki nilai komoditas. Di dalam pemasaran kita mengenal beberapa konsep dasar seperti konsep 4P (Product, Price, Promotion, Place) dan juga ada yang diberi nama dengan pendekatan STP (Segmentasi, Target, dan Posisi). Untuk sebuah perusahaan yang menginginkan kemajuan terhadap usahanya perlu menerapkan strategi-strategi pemasaran, begitu pula dengan Bank. Bank merupakan perusahaan keuangan yang mempunyai kebutuhan pemasaran yang komplek, ini dapat dilihat dari produk-produk yang dimiliki, bagaimana sebuah bank dapat menarik minat nasabahnya untuk menyimpankan uangnya ke bank dan begitupula sebaliknya bank juga memasarkan produk pembiayaannya kepada nasabah, sehingga bisa kita lihat ada dua segmen produk yang harus dipasarkan bank kepada nasabah.
Kondisi hari ini, strategi pemasaran sudah masuk ke ranah yang lebih luas dari pada penerapan teknik pemasaran klasik. Saat ini banyak pemasar yang mulai merubah paradigmanya kepada teknik-teknik pemasaran yang lebih mengeksploitasi dan berkiblat kepada unsur kreatifitas personal. Setiap individu tenaga marketing mempunyai teknik yang berbeda dengan pemasar yang lain, mereka diharuskan memiliki inovasi sendiri untuk bertarung dengan pemasar lain. Ada pemasar yang memanfaatkan jaringan sosialnya untuk dijadikan segmen pasar, ada yang memanfaatkan ketokohan keluarganya, malahan ada pemasar yang melakukan hal-hal yang menyerempet ke perbuatan negatif guna mencapai target yang diberikan oleh perusahaan.
Dari judul diatas akan kita coba sedikit memberikan gambaran tentang pola dan strategi yang bisa dilakukan melalui Jaringan Masjid. Masjid/Mushalla merupakan tempat ibadah umat islam yang utama, pada zaman Rasulullah Masjid juga dimanfaatkan sebagai pusat perekonomian, pusat pemerintahan dan juga pendidikan. Pada saat ini ada beberapa pergeseran pemanfaatanyang terjadi, Masjid hanya dijadikan sebagai tempat ibadah dan pendidikan baca tulis Al-Qur’an apalagi di kota-kota besar.
Apa yang bisa kita pasarkan di Masjid…?, itu pertanyaan yang sangat mendasar jika kita berbicara mengenai pemasaran yang memanfaatkan jaringan Masjid .
Kita ambil sample/asumsi, Sumatera Barat memiliki lebih dari 10.000 buah Masjid dan Mushalla, jika kita bisa menjadikan 75% dari total Masjid tersebut menyimpan dananya dalam bentuk tabungan ke Bank Syariah, dengan asumsi 7.500 buah masjid x Rp. 500.000,- = Rp. 3,7 M, itu masih perkiraan untuk dana kas masjid/mushalla belum lagi untuk pengurusnya.
Pada beberapa Pasar besar di daerah-daerah, seperti Pasar Raya Padang, terdapat beberapa buah Masjid yang biasanya dijadikan tempat ibadah bagi para pelaku pasar. Kalau kita berbicara mengenai produk Bank Syariah, nasabah yang menjadi target awal adalah para calon nasabah yang memiliki kedekatan pengetahuan terhadap islam, segmen ini bisa kita dapatkan di Masjid/Mushalla terutama pada jam-jam sholat seperti sholat Zuhur dan Ashar. Kita ambil contoh Masjid Taqwa dan Masjid Muttatahirin Rawang, setiap jam sholat jama’ahnya selalu di dominasi oleh para pengusaha-pengusaha di Pasar Raya Padang. Disinilah peluang pemasaran yang memanfaatkan jaringan Masjid bisa kita jalankan. Setelah selesai sholat, biasanya jama’ah bersantai sejenak sambil diskusi-diskusi lepas antar sesama pengusaha, disinilah momen yang harus dimanfaatkan oleh tenaga pemasar, dengan konsep produk syariah yang dimiliki dan sedikit pemahaman tentang usaha, lobi-lobi jualan produk syariah baik produk dana maupun produk pembiayaan bisa digencarkan. Dari sekian banyak pengusaha, kita asumsikan akan ada beberapa nasabah yang bisa tergaet dengan teknik ini, karena biasanya sehabis sholat pikiran dan pembawaan jama’ah lebih fresh dari pada kondisi saat mereka di Pasar. Dan biasanya, jika salah satu pengusaha bisa kita jadikan nasabah maka di asumsikan akan ada beberapa orang lain yang akan mengikuti nasabah tersebut, karena disinilah keunggulan jejaring nasabah yang beraktifitas di masjid.
Sehingga nasabah-nasabah yang biasa dipanggil Pak Haji yang banyak berada di pasar-pasar benar-benar mempercayakan usahanya kepada Bank syariah yang cocok dengan gelar yang diterimanya setelah menjalankan ibadah suci tersebut.
Tenaga pemasar pada Bank Syariah sudah saatnya merubah paradigma jualannya yang selama ini door to door ke tempat usaha nasabah dengan mendatangi setiap masjid/mushalla yang notabene memiliki segmentasi pasar nasabah yang cocok dengan karakteristik produk yang dijual.
Untuk lebih memaksimalkan strategi pemasaran produk, tidak ada salahnya seorang pemasar Bank Syariah juga memiliki kemampuan menjadi ustadz/buya yang memberikan siraman rohani di berbagai kesempatan. Tentunya dengan materi dakwah yang tetap menyangkut kepada nilai-nilai ekonomi syariah yang dihembuskan oleh perbankan syariah, karena saat ini hanya segelintir pendakwah yang mau dan mampu menyampaikan konsep keuangan syariah dengan benar dan tepat.
Dari beberapa kondisi diatas dapat kita simpulkan bahwa, sudah saatnya pemasaran produk bank syariah di arahkan kepada segmen pasar yang tepat yaitu kepada calon nasabah yang sering melakukan aktifitasnya di masjid/mushalla. Karena sampai saat ini, nasabah yang berproses pada Bank Syariah masih banyak di dominasi oleh nasabah-nasabah yang rasional (melihat perbedaan tarif yang ditawarkan) sehingga nasabah yang benar-benar target belum begitu terjamah.
BNI SYARIAH & BNI LIFE KERJASAMA INBRANCH SELLING
BNI Syariah menjalin kerjasama dengan BNI Life dalam bidang Pemasaran Asuransi Syariah In Branch Selling. Melalui kerjasama ini, BNI Life melaksanakan pemasaran asuransi syariah (Asuransi Jiwa, Asuransi Pendidikan, Unit Link, Asuransi pensiun) dengan menggunakan saluran pemasaran BNI Syariah.
Kerjasama ini ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerjasama oleh Pemimpin BNI Syariah, Ismi Kushartanto, dengan Direktur Utama PT BNI Life Insurance, Lilies Handayani, di Jakarta (16/2). Menurut Direktur Usaha Kecil Menengah dan Syariah BNI yang turut hadir, Bien Subiantoro, kerjasama ini menunjukkan komitmen BNI dalam memberikan layanan perbankan dan keuangan yang terpadu kepada nasabah melalui cross selling antar unit bisnisnya maupun anak perusahaannya.
Latar belakang sistem pemasaran ini adalah potensi yang menjanjikan dimana penduduk Indonesia yang telah menjadi nasabah perbankan namun belum menjadi nasabah asuransi sangat besar (sekitar 90% nasabah perbankan belum menjadi nasabah asuransi), sehingga kegiatan penjualan produk asuransi melalui perbankan yang dikenal dengan istilah Bancassurance atau Bancatakaful bagi produk-produk Syariah memberikan manfaat baik bagi Bank maupun bagi Perusahaan Asuransi.
Dalam sistem pemasaran ini, semua pihak mendapatkan manfaat, di pihak BNI Syariah dapat meningkatkan fee based income, di pihak BNI Life dapat meningkatkan penjualan dengan biaya distribusi yang rendah sedangkan nasabah memperoleh layanan one stop shop dalam pemenuhan kebutuhan finansial.
Dengan nasabah BNI Syariah saat ini yang mencapai lebih dari 100.000 orang, diharapkan potensi fee based income yang dapat diraih dalam 1 tahun diperkirakan sebesar Rp. 1,5 Milyar.Selain dengan BNI Life, saat ini BNI Syariah telah bekerja sama dengan PT Takaful, PT. Jasindo Takaful dan PT. Asuransi Tripa Syariah.
Mengenai BNI Life Insurance
BNI Life berdiri tahun 1996, dengan nama PT. Asuransi Jiwa BNI Jiwasraya (BNI Life) yang lingkup usahanya meliputi antara lain : Asuransi Jiwa, Asuransi Kesehatan, Asuransi Kecelakaan Diri dll.
Sejalan dengan waktu dan adanya perubahan kepemilikan (PT BNI Tbk sebagai mayoritas), pada tahun 2004 berubah menjadi PT. BNI Life Insurance.
Untuk memenuhi kebutuhan pasar syariah pada tanggal 19 Mei 2004, BNI Life juga telah membentuk Unit khusus Syariah yang memasarkan produk-produk asuransi dengan berbasis Syariah Islam.
Saat ini pemasaran produk BNI Life banyak dilakukan melalui 8 -kantor pemasaran yang telah tersebar dibeberapa kota besar yaitu antara lain di Jakarta, Bandung, Surabaya, Bali dan Medan. Selain itu BNI LIfe juga membuka jalur kerjasama pemasaran dengan berbagai perbankan (Bancassurance).
Mengenai BNI Syariah
BNI Syariah merupakan salah satu unit bisnis dari BNI yang khusus mengelola produk dan layanan syariah, memiliki 53 cabang dan dukungan layanan channeling outlet di 636 kantor cabang BNI di seluruh Indonesia. Sampai saat ini BNI Syariah memiliki lebih dari 180.000 nasabah, didukung oleh 2300 BNI ATM ditambah 5000 ATM LINK, 5000 ATM Bersama, ATM Cirrus Internasional serta fasilitas phonebanking 24 jam BNI Call di 021-5789 9999 atau 68888 (via ponsel), Internet Banking, serta SMS Banking untuk kebutuhan transaksi perbankan dengan puluhan fitur.
KELAS : 2 DD 03
NPM : 30208882
PEMASARAN USAHA SYARIAH
Akhir-akhir ini sebuah konsep marketing syariah mulai merebak di instansi-instansi bisnis syariah. Konsep marketing syariah ini mulai mengemuka ketika bisnis asuransi mulai membuka bisnis syariah.
Marketing syariah sendiri menurut definisi adalah adalah penerapan suatu disiplin bisnis strategis yang sesuai dengan nilai dan prinsip syariah. Jadi marketing syariah dijalankan berdasarkan konsep keislaman yang telah diajarkan Nabi Muhammad SAW. Menurut Hermawan Kartajaya, nilai inti dari marketing syariah adalah Integritas dan transparansi, sehingga marketer tidak boleh bohong dan orang membeli karena butuh dan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan, bukan karena diskonnya.
Pemasar adalah garis depan suatu bisnis, mereka adalah orang-orang yang bertemu langsung dengan konsumen sehingga setiap tindakan dan ucapannya berarti menunjukkan citra dari barang dan perusahaan. Namun sayangnya pandangan masyarakat saat ini menganggap pemasar diidentikkan dengan penjual yang dekat dengan kecurangan, penipuan, paksaan dan lainnya yang telah memperburuk citra seorang pemasar. Tidak terelakkan lagi banyak promosi usaha-usaha yang kita lihat sehari-hari tidak menjelaskan secara detail tentang produknya, yang mereka harapkan adalah konsumen membeli produk mereka dan banyak dari konsumen merasa tertipu atau dibohongi ketika mencoba produk yang dijual pemasar tersebut. Apabila ini terus berlanjut maka akan mungkin terjadi lagi kasus seperti Enron, Worldcom dan lainnya yang akan menghancurkan sebuah perusahaan. Sekarang jelaslah akan pentingnya sebuah nilai integritas dan transparansi seperti yang dikatakan Hermawan Kartajaya diatas agar bisnis berjalan lancar.
Konsep marketing syariah sendiri sebenarnya tidak berbeda jauh dari konsep pemasaran yang kita kenal. Konsep pemasaran yang kita kenal sekarang, pemasaran adalah sebuah ilmu dan seni yang mengarah pada proses penciptaan, penyampaian, dan pengkomunikasian values kepada para konsumen serta menjaga hubungan dengan para stakeholdersnya. Namun pemasaran sekarang menurut Hermawan juga ada sebuah kelirumologi yang diartikan untuk membujuk orang belanja sebanyak-banyaknya atau pemasaran yang pada akhirnya membuat kemasan sebaik-baiknya padahal produknya tidak bagus atau membujuk dengan segala cara agar orang mau bergabung dan belanja. Berbedanya adalah marketing syariah mengajarkan pemasar untuk jujur pada konsumen atau orang lain. Nilai-nilai syariah mencegah pemasar terperosok pada kelirumologi itu tadi karena ada nilai-nilai yang harus dijunjung oleh seorang pemasar.
Marketing syariah bukan hanya sebuah marketing yang ditambahkan syariah karena ada nilai-nilai lebih pada marketing syariah saja, tetapi lebih jauhnya marketing berperan dalam syariah dan syariah berperan dalam marketing. Marketing berperan dalam syariah diartikan perusahaan yang berbasis syariah diharapkan dapat bekerja dan bersikap profesional dalam dunia bisnis, karena dengan profesionalitas dapat menumbuhkan kepercayaan kosumen. Syariah berperan dalam marketing bermakna suatu pemahaman akan pentingnya nilai-nilai etika dan moralitas pada pemasaran, sehingga diharapkan perusahaan tidak akan serta merta menjalankan bisnisnya demi keuntungan pribadi saja ia juga harus berusaha untuk menciptakan dan menawarkan bahkan dapat merubah suatu values kepada para stakeholders sehingga perusahaan tersebut dapat menjaga keseimbangan laju bisnisnya sehingga menjadi bisnis yang sustainable.
Dalam hal teknisnya marketing syariah, salah satunya terdapat syariah marketing strategy untuk memenangkan mind-share dan syariah marketing value untuk memenangkan heart-share. Syariah marketing strategy melakukan segmenting, targeting dan positioning market dengan melihat pertumbuhan pasar, keunggulan kompetitif, dan situasi persaingan sehingga dapat melihat potensi pasar yang baik agar dapat memenangkan mind-share. Selanjutnya syariah marketing value melihat brand sebagai nama baik yang menjadi identitas seseorang atau perusahaan, sehingga contohnya perusahaan yang mendapatkan best customer service dalam bisnisnya sehingga mampu mendapatkan heart-share.
Konsep marketing syariah ini sendiri saat ini baru berkembang seiring berkembangnya ekonomi syariah. Beberapa perusahaan dan bank khususnya yang berbasis syariah telah menerapkan konsep ini dan telah mendapatkan hasil yang positif. Kedepannya diprediksikan marketing syariah ini akan terus berkembang dan dipercaya masyarakat karena nilai-nilainya yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan masyarakat yaitu kejujuran.
PEMASARAN PRODUK BANK SYARIAH BERBASIS JARINGAN MASJID
Strategi Pemasaran merupakan suatu alat/teknik untuk mencapai tujuan bagi sebuah perusahaan yang berkaitan dengan berbagai faktor seperti social, budaya, politik, ekonomi, dan manajerial. Akibat dari pengaruh berbagai faktor tersebut maka masing-masing individu maupun kelompok mendapatkan kebutuhan dan keinginan dengan menciptakan, menawarkan, dan menukarkan produk yang memiliki nilai komoditas. Di dalam pemasaran kita mengenal beberapa konsep dasar seperti konsep 4P (Product, Price, Promotion, Place) dan juga ada yang diberi nama dengan pendekatan STP (Segmentasi, Target, dan Posisi). Untuk sebuah perusahaan yang menginginkan kemajuan terhadap usahanya perlu menerapkan strategi-strategi pemasaran, begitu pula dengan Bank. Bank merupakan perusahaan keuangan yang mempunyai kebutuhan pemasaran yang komplek, ini dapat dilihat dari produk-produk yang dimiliki, bagaimana sebuah bank dapat menarik minat nasabahnya untuk menyimpankan uangnya ke bank dan begitupula sebaliknya bank juga memasarkan produk pembiayaannya kepada nasabah, sehingga bisa kita lihat ada dua segmen produk yang harus dipasarkan bank kepada nasabah.
Kondisi hari ini, strategi pemasaran sudah masuk ke ranah yang lebih luas dari pada penerapan teknik pemasaran klasik. Saat ini banyak pemasar yang mulai merubah paradigmanya kepada teknik-teknik pemasaran yang lebih mengeksploitasi dan berkiblat kepada unsur kreatifitas personal. Setiap individu tenaga marketing mempunyai teknik yang berbeda dengan pemasar yang lain, mereka diharuskan memiliki inovasi sendiri untuk bertarung dengan pemasar lain. Ada pemasar yang memanfaatkan jaringan sosialnya untuk dijadikan segmen pasar, ada yang memanfaatkan ketokohan keluarganya, malahan ada pemasar yang melakukan hal-hal yang menyerempet ke perbuatan negatif guna mencapai target yang diberikan oleh perusahaan.
Dari judul diatas akan kita coba sedikit memberikan gambaran tentang pola dan strategi yang bisa dilakukan melalui Jaringan Masjid. Masjid/Mushalla merupakan tempat ibadah umat islam yang utama, pada zaman Rasulullah Masjid juga dimanfaatkan sebagai pusat perekonomian, pusat pemerintahan dan juga pendidikan. Pada saat ini ada beberapa pergeseran pemanfaatanyang terjadi, Masjid hanya dijadikan sebagai tempat ibadah dan pendidikan baca tulis Al-Qur’an apalagi di kota-kota besar.
Apa yang bisa kita pasarkan di Masjid…?, itu pertanyaan yang sangat mendasar jika kita berbicara mengenai pemasaran yang memanfaatkan jaringan Masjid .
Kita ambil sample/asumsi, Sumatera Barat memiliki lebih dari 10.000 buah Masjid dan Mushalla, jika kita bisa menjadikan 75% dari total Masjid tersebut menyimpan dananya dalam bentuk tabungan ke Bank Syariah, dengan asumsi 7.500 buah masjid x Rp. 500.000,- = Rp. 3,7 M, itu masih perkiraan untuk dana kas masjid/mushalla belum lagi untuk pengurusnya.
Pada beberapa Pasar besar di daerah-daerah, seperti Pasar Raya Padang, terdapat beberapa buah Masjid yang biasanya dijadikan tempat ibadah bagi para pelaku pasar. Kalau kita berbicara mengenai produk Bank Syariah, nasabah yang menjadi target awal adalah para calon nasabah yang memiliki kedekatan pengetahuan terhadap islam, segmen ini bisa kita dapatkan di Masjid/Mushalla terutama pada jam-jam sholat seperti sholat Zuhur dan Ashar. Kita ambil contoh Masjid Taqwa dan Masjid Muttatahirin Rawang, setiap jam sholat jama’ahnya selalu di dominasi oleh para pengusaha-pengusaha di Pasar Raya Padang. Disinilah peluang pemasaran yang memanfaatkan jaringan Masjid bisa kita jalankan. Setelah selesai sholat, biasanya jama’ah bersantai sejenak sambil diskusi-diskusi lepas antar sesama pengusaha, disinilah momen yang harus dimanfaatkan oleh tenaga pemasar, dengan konsep produk syariah yang dimiliki dan sedikit pemahaman tentang usaha, lobi-lobi jualan produk syariah baik produk dana maupun produk pembiayaan bisa digencarkan. Dari sekian banyak pengusaha, kita asumsikan akan ada beberapa nasabah yang bisa tergaet dengan teknik ini, karena biasanya sehabis sholat pikiran dan pembawaan jama’ah lebih fresh dari pada kondisi saat mereka di Pasar. Dan biasanya, jika salah satu pengusaha bisa kita jadikan nasabah maka di asumsikan akan ada beberapa orang lain yang akan mengikuti nasabah tersebut, karena disinilah keunggulan jejaring nasabah yang beraktifitas di masjid.
Sehingga nasabah-nasabah yang biasa dipanggil Pak Haji yang banyak berada di pasar-pasar benar-benar mempercayakan usahanya kepada Bank syariah yang cocok dengan gelar yang diterimanya setelah menjalankan ibadah suci tersebut.
Tenaga pemasar pada Bank Syariah sudah saatnya merubah paradigma jualannya yang selama ini door to door ke tempat usaha nasabah dengan mendatangi setiap masjid/mushalla yang notabene memiliki segmentasi pasar nasabah yang cocok dengan karakteristik produk yang dijual.
Untuk lebih memaksimalkan strategi pemasaran produk, tidak ada salahnya seorang pemasar Bank Syariah juga memiliki kemampuan menjadi ustadz/buya yang memberikan siraman rohani di berbagai kesempatan. Tentunya dengan materi dakwah yang tetap menyangkut kepada nilai-nilai ekonomi syariah yang dihembuskan oleh perbankan syariah, karena saat ini hanya segelintir pendakwah yang mau dan mampu menyampaikan konsep keuangan syariah dengan benar dan tepat.
Dari beberapa kondisi diatas dapat kita simpulkan bahwa, sudah saatnya pemasaran produk bank syariah di arahkan kepada segmen pasar yang tepat yaitu kepada calon nasabah yang sering melakukan aktifitasnya di masjid/mushalla. Karena sampai saat ini, nasabah yang berproses pada Bank Syariah masih banyak di dominasi oleh nasabah-nasabah yang rasional (melihat perbedaan tarif yang ditawarkan) sehingga nasabah yang benar-benar target belum begitu terjamah.
BNI SYARIAH & BNI LIFE KERJASAMA INBRANCH SELLING
BNI Syariah menjalin kerjasama dengan BNI Life dalam bidang Pemasaran Asuransi Syariah In Branch Selling. Melalui kerjasama ini, BNI Life melaksanakan pemasaran asuransi syariah (Asuransi Jiwa, Asuransi Pendidikan, Unit Link, Asuransi pensiun) dengan menggunakan saluran pemasaran BNI Syariah.
Kerjasama ini ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerjasama oleh Pemimpin BNI Syariah, Ismi Kushartanto, dengan Direktur Utama PT BNI Life Insurance, Lilies Handayani, di Jakarta (16/2). Menurut Direktur Usaha Kecil Menengah dan Syariah BNI yang turut hadir, Bien Subiantoro, kerjasama ini menunjukkan komitmen BNI dalam memberikan layanan perbankan dan keuangan yang terpadu kepada nasabah melalui cross selling antar unit bisnisnya maupun anak perusahaannya.
Latar belakang sistem pemasaran ini adalah potensi yang menjanjikan dimana penduduk Indonesia yang telah menjadi nasabah perbankan namun belum menjadi nasabah asuransi sangat besar (sekitar 90% nasabah perbankan belum menjadi nasabah asuransi), sehingga kegiatan penjualan produk asuransi melalui perbankan yang dikenal dengan istilah Bancassurance atau Bancatakaful bagi produk-produk Syariah memberikan manfaat baik bagi Bank maupun bagi Perusahaan Asuransi.
Dalam sistem pemasaran ini, semua pihak mendapatkan manfaat, di pihak BNI Syariah dapat meningkatkan fee based income, di pihak BNI Life dapat meningkatkan penjualan dengan biaya distribusi yang rendah sedangkan nasabah memperoleh layanan one stop shop dalam pemenuhan kebutuhan finansial.
Dengan nasabah BNI Syariah saat ini yang mencapai lebih dari 100.000 orang, diharapkan potensi fee based income yang dapat diraih dalam 1 tahun diperkirakan sebesar Rp. 1,5 Milyar.Selain dengan BNI Life, saat ini BNI Syariah telah bekerja sama dengan PT Takaful, PT. Jasindo Takaful dan PT. Asuransi Tripa Syariah.
Mengenai BNI Life Insurance
BNI Life berdiri tahun 1996, dengan nama PT. Asuransi Jiwa BNI Jiwasraya (BNI Life) yang lingkup usahanya meliputi antara lain : Asuransi Jiwa, Asuransi Kesehatan, Asuransi Kecelakaan Diri dll.
Sejalan dengan waktu dan adanya perubahan kepemilikan (PT BNI Tbk sebagai mayoritas), pada tahun 2004 berubah menjadi PT. BNI Life Insurance.
Untuk memenuhi kebutuhan pasar syariah pada tanggal 19 Mei 2004, BNI Life juga telah membentuk Unit khusus Syariah yang memasarkan produk-produk asuransi dengan berbasis Syariah Islam.
Saat ini pemasaran produk BNI Life banyak dilakukan melalui 8 -kantor pemasaran yang telah tersebar dibeberapa kota besar yaitu antara lain di Jakarta, Bandung, Surabaya, Bali dan Medan. Selain itu BNI LIfe juga membuka jalur kerjasama pemasaran dengan berbagai perbankan (Bancassurance).
Mengenai BNI Syariah
BNI Syariah merupakan salah satu unit bisnis dari BNI yang khusus mengelola produk dan layanan syariah, memiliki 53 cabang dan dukungan layanan channeling outlet di 636 kantor cabang BNI di seluruh Indonesia. Sampai saat ini BNI Syariah memiliki lebih dari 180.000 nasabah, didukung oleh 2300 BNI ATM ditambah 5000 ATM LINK, 5000 ATM Bersama, ATM Cirrus Internasional serta fasilitas phonebanking 24 jam BNI Call di 021-5789 9999 atau 68888 (via ponsel), Internet Banking, serta SMS Banking untuk kebutuhan transaksi perbankan dengan puluhan fitur.
Jumat, 01 Januari 2010
MASALAH PENGANGGURAN DI JAKARTA UTARA
TAHUN 2008 – 2009
MAKALAH
DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS SEMESTER GANJIL
MATA KULIAH EKONOMI PEMBANGUNAN
OLEH
NAMA : NIKA SARTIKA
KELAS : 2 DD 03
NPM : 30208882
UNIVERSITAS GUNADARMA
2009
KATA PENGANTAR
Penulis mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT dan atas segala rahmat dan karunia yang telah dilimpahkan, sehingga makalah ini dapat diselesaikan.
Makalah ini merupakan tugas dari mata kuliah Ekonomi Pembangunan. Didalamnya tentang Masalah pengangguran yang diharapkan deapat bermanfaat bagi para pembaca.
Penulis menyadari makalah ini jauh dari kesempurnaan, maka kepada semua pihak yang berkenan dapat memberi kritik dan saran. Maka akan disambut baik dengan hati yang terbuka .
Akhir kata terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hungga selesainya makalah ini.
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…………………………………………………………………ii
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
I. LATAR BELAKANG MASALAH…………………………………………..1
II. RUMUSAN MASALAH......................………………………………………..2
III. TUJUAN PENULISAN………………………………………………………..2
IV. METODE PENGUMPULAN DATA………………………………………....3
V. SISTEMATIS PENULISAN…………………………………………………..3
BAB II PEMBAHASAN
A. DEFINISI PENGANGGURAN…………………………………………...4
B. MASALAHA PENGANGGURAN DI JAKARTA UTARA……………4
C. KEADAAN PENGANGGURAN DI JAKARTA UTARA………………6
D. KEADAAN ANGKATANKERJA DAN KESEMPATAN KERJA…….7
E. PENGANGGURAN MENYEBABKAN KEMISKINAN……………….8
F. DAMPAK PENGANGGURAN DI JAKARTA UTARA TERHADAP DKI JAKARTA…………………………………………………………………..9
G. REALISASI INDUSTRI UNTUK MENYERAP TENAGA KERJA DAN MENGURANGI PENGANGGURAN........................................................10
H. DATA PENGANGGURAN DI DKI JAKARTA......................................10
• Tingkat pengangguran terbuka (TPT) merupakan indicator……...12
• Laporan kerja utama Penduduk yang bekerja menurut lapangan usaha……………………………………………………………………13
• Status Pekerjaan………………………………………………………14
• Angkatan Kerja, Penduduk Bekerja dan Pengangguran menurut Kabupaten/Kota…………………………………………….................16
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN…………………………………………………………….18
B. SOLUSI MASALAH PENGANGGURAN DI JAKARTA UTARA.......18
BAB I
PENDAHULUAN
I. LATAR BELAKANG MASALAH
Beberapa tahun di Negara kita mengalami banyaknya Pemberhentian hari kerja (PHK). Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada yang mampu menyerapnya. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya.
Tingkat pengangguran dapat dihitung dengan cara membandingkan jumlah pengangguran dengan jumlah angkatan kerja yang dinyatakan dalam persen. Ketiadaan pendapatan menyebabkan penganggur harus mengurangi pengeluaran konsumsinya yang menyebabkan menurunnya tingkat kemakmuran dan kesejahteraan. Pengangguran yang berkepanjangan juga dapat menimbulkan efek psikologis yang buruk terhadap penganggur dan keluarganya. Tingkat pengangguran yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan kekacauan politik keamanan dan sosial sehingga mengganggu pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Akibat jangka panjang adalah menurunnya GNP dan pendapatan per kapita suatu negara. Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, dikenal istilah "pengangguran terselubung" di mana pekerjaan yang semestinya bisa dilakukan dengan tenaga kerja sedikit, dilakukan oleh lebih banyak orang.
II. RUMUSAN MASALAH
Seperti yang diuraikan pada latar belakang, maka penulisan mengambil rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa pengertian definisi pengangguran
2. Apa yang menjadi masalah pengangguran di Jakarta utara
3. Bagaimana keadaan pengangguran di Jakarta utara
4. Bagaimana angkata kkerja dann kesempatan kerja
5. Pengangguran mengakibatkan kemiskinan
6. Apa dampak pengangguran di Jakarta utara
7. Apa janji realisasi industri untuk menyerap tenaga kerja dan mengurangi pengangguran
8. Sajian data pengangguran dsi Jakarta utara
III. TUJUAN PENULISAN
Tujuan penulisan membuat makalah yang berjudul “Masalah Pengangguran di jakarta utara” adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui definisi pengangguran
2. Mengetahui apa yang menjadi masalah pengangguran di Jakarta utara
3. Mengetahui keadaan pengangguran di Jakarta utara
4. Mengetahui angkatan kerja dan kesempatan kerja
5. Mengetahui akibat yang ditimbulkan dari pengangguran
6. Mengetahuio dampak pengangguran di Jakarta utara terhadap pertumbuhan Dki Jakarta
7. Merealisasikan industri untuk menyerap tenaga kerja dan mengurangi pengangguran
8. Mengetahui data – data peengangguran
IV. METODE PENGUMPULAN DATA
Dalam penyusunan makalah ini, perlu sekali pengumpulan data serta informasi actual yang sesuai dengan masalah yang akan dibahas. Sehubungan dengan materi yang akan dipelajarin dan juga dengan makalah yang dibuat. Dengan beberapa pengumpulan data yang pertama sedikit dari narasumber dan internet, kedua dari ilmu dan pengalaman sehari – hari.
V. SISTEMATIS PENULISAN
Makakah “ Masalah pengangguran di Jakarta utara ini disusun dengan urutan sebgai berikut :
Bab 1 Pendahuluan
Pada bagian ini dijelaskan tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, metode pengumpulan data, dan sistematis penulisan.
Bab 2 Pembahasan
Pada bab ini ditemukan tentang pembahasan yang terdiri dari definisi pengangguran, apa masalah pengangguran di Jakarta utara, bagaimana keadaan pengangguran di Jakarta utara, bagaimana keadaan kerja dan keadaan kesempatan kerja, mengapa pengangguran menyebabkan kemiskinan, apa dampak dari akibat pengangguran di Jakarta utara terhadap pertumbuhan di Dki Jakarta, apa realisasi industri untuk menyerap tenaga kerja dan mengurangi pengangguran, serta penyajian data pengangguran di Jakarta utara.
Bab 3 Penutup
Bab terakhir ini membuat kesimpulan dan solusi terhadap pengangguran di Jakarta utara.
Daftar pustaka
Pada bagian berisis referensi – referensi dari berbagai media yang penulis gunakan untuk pembuatan makalah ini yang disjikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. DEFINISI PENGANGGURAN
Pengangguran adalah orang yang masuk dalam angkatan kerja (15 sampai 64 tahun) yang sedang mencari pekerjaan dan belum mendapatkannya. Orang yang tidak sedang mencari kerja contohnya seperti ibu rumah tangga, siswa sekolan smp, sma, mahasiswa perguruan tinggi, dan lain sebagainya yang karena sesuatu hal tidak/belum membutuhkan pekerjaan.
Definisi menurut sadono sukirno
Pengangguran adalah suatu keadaan dimana seseorang yang tergolong dalam angkatan kerja ingin mendapatkan pekerjaan tetapi belum dapat memperolehnya.
Definisi pengangguran berdasarkan istilah umum dari pusat dan latihan tenaga kerja
Pengangguran adalah orang yang tidak mampu mendapatkan pekerjaan yang menghasilkan uang melainkan tidak bekerja
B. MASALAH PENGANGGURAN DI JAKARTA UTARA
Pengangguran adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama minggu, atau seseorang yang tidak bekerja.
Pengangguran disebabkan karena tidak ada kesempatan kerja dan tidak sebanding tingkatan kerja yang dibutuhkan. Pengangguran sering kali menjadi masalah perekonomian karena danya pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakatan akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah – masalah social lainnya.
Tingkat pengangguran dapat dihitung dari perbandingan jumlah pengangguran dengan jumlah angkatan kerja yang dinyatakan dalam poersen setiap pertahun.
Ketiadaan pendapatan menyebabkan karena pengangguran harus mengurangi jumlah konsumsi yang dibutuhkan. Pengangguran berkepanjangan juga dapat menimbulkan efek psikologisyang buruk terhadap pengangguran keluarga.
Meski menyandang predikat sebagai kota besar sekaligus Ibukota Negara, ternyata Jakarta masih menyimpan masalah serius. Selain masalah kemacetan lalu lintas, tingginya jumlah penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS), dan buta huruf, Jakarta juga dihadapkan pada masalah tingginya angka pengangguran. Buktinya, jumlah pengangguran di DKI selalu meningkat setiap tahun. Hingga Agustus 2008 ini, pengangguran di Jakarta berjumlah 543 ribu orang atau bertambah 998 orang dibanding tahun sebelumnya yang berjumlah 542.002 orang. Penganggur itu rata-rata berusia 19 hingga 23 tahun.
Peningkatan jumlah pengangguran ini salah satunya disebabkan oleh derasnya laju urbanisasi dari daerah ke Jakarta. Selain juga diakibatkan banyaknya lulusan SMA yang tidak mampu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Kondisi ini tak pelak membuat Dinas Tenaga kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) DKI Jakarta bekerja ekstra keras. Deded Sukandar, Kepala Disnakertrans DKI mengatakan peningkatann jumlah pengangguran ini bukan hanya masalah Pemprov DKI saja, melainkan juga menjadi masalah provinsi-provinsi lain di Indonesia. Bahkan sudah menjadi masalah nasional yang juga turut dipikirkan oleh pemerintah pusat. Sebab, menurut Deded, tingginya jumlah pengangguran di DKI disebabkan oleh tak terbendungnya laju urbanisasi dari berbagai daerah ke Jakarta.
Disnakertrans sedang memilah-milah dari jumlah 543 ribu pengangguran ini, mana yang memang asli usia produktif yang menganggur asal Jakarta dan mana yang berasal dari luar Jakarta. Pemilahan ini berguna untuk mencari pemecahan masalah yang tepat. Disnakertrans juga berupaya menurunkan jumlah pengangguran hingga 20 persen di tahun 2008 dan 2009.
Salah satunya ada dengan meningkatkan peranan Balai Latihan Kerja (BLK) di lima wilayah Provinsi DKI Jakarta. BLK yang berjumlah 20 buah ini bisa menampung 60 orang yang tidak punya pekerjaan untuk ditempa dalam berbagai keterampilan seperti menjahit, bengkel, tata boga, komputer, dan keterampilan lainnya yang diperlukan oleh hotel, perusahaan motor bahkan instansi pemerintahan daerah setempat.
C. KEADAAN PENGANGGURAN DI JAKARTA UTARA
Tingkat pengangguran terbuka (TPT) di DKI Jakarta hingga Agustus 2009 mencapai 569.340 orang atau 12,15 persen, sehingga mengalami penurunan 0,01 persen dibanding TPT pada Agustus 2008 yang mencapai 580.510 orang atau 12,16 persen.
Di Jakarta Timur, jumlah pengangguran naik dari 166.370 orang pada 2008 menjadi 175.440 orang di tahun 2009, di Jakarta Pusat, jumlah TPT tahun 2008 sebanyak 56.350 orang naik menjadi 59.540 orang pada tahun 2009, dan di Kepulauan Seribu mengalami kenaikan dari 92.000 orang di tahun 2008 menjadi 97.000 orang.
Sementara itu, daerah yang mengalami penurunan angka TPT yaitu Jakarta Selatan dari 133.070 pengangguran (2008) menjadi 127.680 orang (2009), Jakarta Barat 114.210 orang (2008) turun menjadi 109.140 orang (2009), Jakarta Utara 109.600 orang (2008) turun menjadi 96.570 orang (2009).
Tingkat pendidikan yang paling banyak menyumbangkan angka pengangguran yaitu lulusan siswa menengah kejuruan (SMK) dan yang paling kecil lulusan Diploma I-III, dengan rincian TPT dari lulusan SMK 156.390 orang, lulusan SMU 146.198 orang, lulusan SMP 86.866 orang, lulusan SD 75.203 orang, lulusan universitas (S1-S3) 73.417 orang, dan lulusan diploma (DI-DIII) 31.266 orang.
Pada periode Agustus 2008 hingga Agustus 2009, ada penambahan penduduk yang bekerja di sektor primer yakni 9.080 orang, sektor sekunder 3.080 orang. Sedangkan di sektor tersier jumlahnya turun menjadi 85.740 orang.
Sementara jumlah angkatan kerja di Jakarta pada Agustus 2009 mencapai 4,69 juta orang, atau berkurang 84.750 orang dibanding periode Agustus 2008 yang mencapai 4,77 juta orang.
Penurunan tingkat penangguran tersebut terjadi seiring dengan berbagai upaya Pemerintah Provinsi DKI untuk menekan jumlah pengangguran, antara lain dengan membuka peluang kerja seluas-luasnya dan program transmigrasi.
D. KEADAAN ANGKATAN KERJA DAN KESEMPATAN KERJA
Kesempatan kerja merupakan hubungan antara angkatan kerja dengan kemampuan penyerapan tenaga kerja. Pertambahan angkatan kerja harus diimbangi dengan investasi yang dapat menciptakan kesempatan kerja. Dengan demikian, dapat menyerap pertambahan angkatan kerja.
Banyak sedikitnya jumlah angkatan kerja tergantung komposisi jumlah penduduknya. Kenaikan jumlah penduduk terutama yang termasuk golongan usia kerja akan menghasilkan angkatan kerja yang banyak pula. Angkatan kerja yang banyak tersebut diharapkan akan mampu memacu meningkatkan kegiatan ekonomi yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pada kenyataannya, jumlah penduduk yang banyak tidak selalu memberikan dampak yang positif terhadap kesejahteraan. Coba Anda perhatikan bagan di bawah ini!
Dari bagan di bawah terlihat bahwa angkatan kerja merupakan bagian dari penduduk yang termasuk ke dalam usia kerja. Usia Kerja adalah suatu tingkat umur seseorang yang diharapkan sudah dapat bekerja dan menghasilkan pendapatannya sendiri. Usia kerja ini berkisar antara 14 sampai 55 tahun. Selain penduduk dalam usia kerja, ada juga penduduk di luar usia kerja, yaitu di bawah usia kerja dan di atas usia kerja. Penduduk yang dimaksud yaitu anak-anak usia sekolah dasar dan yang sudah pensiun atau berusia lanjut.
Bagian lain dari penduduk dalam usia kerja adalah bukan angkatan kerja. Yang termasuk di dalamnya adalah para remaja yang sudah masuk usia kerja tetapi belum bekerja atau belum mencari perkerjaan karena masih sekolah. Ibu rumah tangga pun termasuk ke dalam kelompok bukan angkatan kerja.
Penduduk dalam usia kerja yang termasuk angkatan kerja, dikelompokkan menjadi tenaga kerja (bekerja) dan bukan tenaga kerja (mencari kerja atau menganggur). Tenaga Kerja (man power) adalah bagian dari angkatan kerja yang berfungsi dan ikut serta dalam proses produksi serta menghasilkan barang atau jasa.
E. PENGANGGURAN MENYEBABKAN KEMISKINAN
Besarnya Angkatan Kerja Tidak Seimbang dengan Kesempatan Kerja
Ketidakseimbangan terjadi apabila jumlah angkatan kerja lebih besar daripada kesempatan kerja yang tersedia. Kondisi sebaliknya sangat jarang terjadi.
Struktur Lapangan Kerja Tidak Seimbang
Kebutuhan jumlah dan jenis tenaga terdidik dan penyediaan tenaga terdidik tidak seimbang. Apabila kesempatan kerja jumlahnya sama atau lebih besar daripada angkatan kerja, pengangguran belum tentu tidak terjadi. Alasannya, belum tentu terjadi kesesuaian antara tingkat pendidikan yang dibutuhkan dan yang tersedia. Ketidakseimbangan tersebut mengakibatkan sebagian tenaga kerja yang ada tidak dapat mengisi kesempatan kerja yang tersedia.
Meningkatnya peranan dan aspirasi Angkatan Kerja Wanita dalam seluruh struktur Angkatan Kerja Indonesia
Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Kerja antar daerah tidak seimbang
Jumlah angkatan kerja disuatu daerah mungkin saja lebih besar dari kesempatan kerja, sedangkan di daerah lainnya dapat terjadi keadaan sebaliknya. Keadaan tersebut dapat mengakibatkan perpindahan tenaga kerja dari suatu daerah ke daerah lain, bahkan dari suatu negara ke negara lainnya.
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KEMISKINAN
Tidak sulit mencari faktor-faktor penyebab kemiskinan, tetapi dari faktor-faktor tersebut sangat sulit memastikan mana yang merupakan penyebab sebenarnya serta mana yang berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap perubahan kemiskinan
Tingkat dan laju pertumbuhan output
Tingkat upah neto
Distribusi pendapatan
Kesempatan kerja
Tingkat inflasi
Pajak dan subsidi
Investasi
Alokasi serta kualitas SDA
Ketersediaan fasilitas umum
Penggunaan teknologi
Tingkat dan jenis pendidikan
Kondisi fisik dan alam
F. DAMPAK PENGANGGURAN DI JAKARTA UTARA TERHADAP DI DKI JAKARTA
Walikota menyatakan bahwa pengangguran di dki jakarta sangat meningat dari tahun sebelum – belumnya. Pendapatan masyarakat pun sangat bekurang. Dikarenakan dari persoalan tidak adanya lowongan pekerjaan atau peluang bagi pencari kerja. Lapangan pekerjaan juga sangat kurang terhadap perusahaan yang mau membuka peluang bagi pencari kerja.
Tingkat pengangguranpun akan semakin meningkat jika tidak adanya penanggulangan terhadap pengangguran yang tidak bekerja. Dan tingkat kemiskinanpun akan semakin banyak.
Untuk cara penanggulangannya sebagai berikut :
• Membuka peluang usaha baru
• Meminjamkan modal kerja bagi yang ingin membuka usaha
• Memberikan solusi pinjaman sementara
• Adanya penangungan buat hidup
G. REALISASI INDUSTRI UNTUK MENYERAP TENAGA KERJA DAN MENGURANGI PENGANGGURAN
Masa jaya waktu pemerintahan pada masa order baru, perusahaan pada masa itu sangat membutuhkan banyak karyawan bagi lulusan dan tingkatan pendididkan yang dibutuhkan perusahaan. Tapi perusahaan sekarang samgat jarang membutuhkan karyawan baru. Oleh sebab itu didki jakarta kekurangan lahan perindustrian.
Dan jarang membuka lowongan pekerjaan bagi para pengangguran di daerah dki ini. Sungguh sangat sulit bagi yang ingin bekerja sedangkan kesempatan kerja itu sangat jarang didapat bagi yang bersedia untuk mencari pekerjaan.
H. DATA PENGANGGURAN DI DKI JAKARTA
Struktur angkatan kerja di Provinsi DKI Jakarta pada bulan Agustus 2009 secara keseluruhan mengalami perubahan. Pada bulan Agustus 2009, jumlah angkatan kerja tercatat 4,69 juta orang, berkurang sebanyak 84,75 ribu orang bila dibandingkan dengan keadaan Agustus 2008 sebanyak 4,77 juta orang. Penurunan angkatan kerja terjadi pada angkatan kerja laki-laki dan perempuan. Angkatan kerja laki-laki berkurang sebanyak 22,95 ribu orang yaitu dari 2.856,01 ribu orang pada tahun 2008 menjadi 2.833,06 ribu orang pada tahun 2009. Sementara angkatan kerja perempuan mengalami penurunan sebanyak 61,80 ribu orang, yaitu dari 1.916,47 ribu orang pada tahun 2008 menjadi 1.854,67 ribu orang (Tabel 1). Penurunan angkatan kerja ini diduga pengaruh krisis keuangan global yang melanda negara Amerika Serikat dan negara lainnya sehingga berdampak terhadap perekonomian di Indonesia, khususnya Provinsi DKI Jakarta. Penduduk yang terkena PHK dan yang mencari kerja akhirnya sebagian memasuki struktur bukan angkatan kerja terutama mengurus rumah tangga.
Seiring dengan menurunnya jumlah angkatan kerja, jumlah penduduk yang bekerja juga mengalami penurunan. Penduduk yang bekerja berkurang dari 4,19 juta orang pada Agustus 2008 menjadi 4,12 juta orang pada Agustus 2009 atau terjadi penurunan 73,58 ribu orang. Penurunan jumlah penduduk yang bekerja didominasi oleh kaum perempuan. Penurunan penduduk perempuan yang bekerja sebesar 53,90 ribu orang yaitu dari 1.659,59 ribu orang pada Agustus 2008 menjadi 1.605,69 ribu orang pada Agustus 2009. Penduduk laki-laki yang bekerja juga mengalami penurunan sebesar 19,67 ribu orang yaitu dari 2.532,37 ribu orang pada Agustus 2008 menjadi 2.512,70 ribu orang pada Agustus 2009.
Adanya penurunan penduduk bekerja terutama disebabkan kondisi perekonomian yang kurang menguntungkan. Selama periode Agustus 2008 - 2009 ada perusahaan besar yang tidak beroperasi atau mengurangi produksi akibat terimbas krisis keuangan global, terutama perusahaan yang bahan bakunya tergantung bahan impor. Sebagai implikasi dari tutupnya beberapa perusahaan maka perusahaan terpaksa merumahkan sejumlah buruh/karyawan. Lemahnya kondisi ekonomi, khususnya pada awal Semester I, juga berdampak terhadap sektor informal seperti menurunnya jumlah orang yang berusaha dibantu buruh tidak tetap dan pekerja keluarga.
Tingkat pengangguran terbuka (TPT) merupakan indikator yang menggambarkan persentase angkatan kerja yang tidak bekerja dan sedang mencari pekerjaan atau mempersiapkan suatu usaha. Atau mereka yang tergolong angkatan kerja namun tidak terserap dalam pasar kerja. Selama periode Agustus 2008 - Agustus 2009, tingkat pengangguran terbuka (TPT) mengalami sedikit penurunan dari 12,16 persen menjadi 12,15 persen. TPT perempuan mengalami peningkatan dari 13,40 persen menjadi 13,42 persen, sedangkan TPT laki-laki mengalami penurunan dari 11,33 persen menjadi 11,31 persen.
Secara absolut, jumlah penganggur mengalami penurunan sebesar 11,17 ribu orang yaitu dari 580,51 ribu orang pada Agustus 2008 menjadi 569,34 ribu orang pada Agustus 2009. Selama setahun terakhir terjadi penurunan jumlah penganggur laki-laki, sebesar 3,28 ribu orang yaitu dari 323,64 ribu orang pada Agustus 2008 menjadi 320,36 ribu orang pada Agustus 2009, sedangkan jumlah penganggur perempuan secara absolut mengalami penurunan sebesar 7,89 ribu orang yaitu dari 256,87 ribu orang pada Agustus 2008 menjadi 248,98 ribu orang pada Agustus 2009.
Penurunan jumlah penganggur disebabkan menurunnya kesempatan kerja pada beberapa lapangan pekerjaan. Selain itu juga, disebabkan oleh tumbangnya beberapa perusahaan besar yang terimbas oleh krisis keuangan global. Sementara ada beberapa perusahaan yang mengurangi jumlah buruh/karyawan. Puncak dampak krisis global, khususnya Provinsi DKI Jakarta terjadi pada bulan Mei-Juni 2009, karena banyak perusahaan yang habis masa ordernya. Selama 1 bulan terhitung Juli 2009, kemungkinan buruh/karyawan yang di PHK sedang cooling down, atau mereka belum berupaya melakukan aktivitas mencari kerja atau mempersiapkan suatu usaha. Sehingga saat dilakukan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada bulan Agustus 2009, aktivitas mencari kerja dan mempersiapkan usaha belum terdeteksi. Diduga, selama bulan Juli-Agustus 2009, ada pergeseran penduduk yang pada awalnya berstatus angkatan kerja (bekerja dan mencari kerja/mempersiapkan suatu usaha) masuk ke dalam struktur bukan angkatan kerja, terutama mengurus rumah tangga (Tabel 1).
Selama Agustus 2008-Agustus 2009 terjadi penurunan tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK). Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) merupakan indikator yang menggambarkan penduduk usia kerja yang terlibat aktif dalam kegiatan ekonomi. Pada bulan Agustus 2009, TPAK Provinsi DKI Jakarta mencapai 66,60 persen. Angka ini mengalami penurunan sebesar 2,08 persen bila dibandingkan dengan keadaan Agustus 2008 (68,68 persen). TPAK laki-laki menurun dari 84,41 persen pada Agustus 2008 menjadi 82,90 persen pada Agustus 2009, begitu pula TPAK perempuan menurun dari 53,75 persen pada Agustus 2008 menjadi 51,21 persen pada Agustus 2009.
2. Laporan kerja utama Penduduk yang bekerja menurut lapangan usaha, dibedakan menurut tiga sektor utama yaitu sektor primer, sekunder dan tersier. Sektor primer merupakan sektor pertanian dan pertambangan, sektor sekunder merupakan agregat sektor industri pengolahan, sektor konstruksi, serta sektor listrik, gas dan air. Sektor tersier merupakan gabungan sektor perdagangan, rumah makan dan jasa akomodasi; sektor angkutan dan komunikasi; sektor keuangan dan jasa perusahaan; serta sektor jasa kemasyarakatan.
Tabel 2 memperlihatkan struktur penduduk yang bekerja menurut tiga sektor utama. Selama periode Agustus 2008–Agustus 2009, secara umum jumlah penduduk yang bekerja mengalami penurunan. Pada Agustus 2009, jumlah penduduk bekerja pada sektor tersier tercatat 3.205,71 ribu orang, dan pada Agustus 2008 tercatat 3.291,45 ribu orang, atau terjadi penurunan sebanyak 85,74 ribu orang. Penurunan jumlah penduduk yang bekerja pada sektor ini sebagian besar berasal dari sektor perdagangan, rumah makan dan jasa akomodasi; sektor lembaga keuangan, real estate, usaha persewaan dan jasa perusahaan; serta sektor transportasi dan pergudangan. Jumlah penduduk yang bekerja pada sektor primer dan sektor sekunder mengalami peningkatan, masing-masing sebesar 9,08 ribu orang, dan 3,08 ribu orang bila dibandingkan keadaan Agustus 2008.
3. Status Pekerjaan
Kegiatan formal dan informal dapat dilihat berdasarkan pendekatan status pekerjaan. Dari enam kategori status pekerjaan utama, yang diklasifikasikan bekerja di sektor formal adalah status pekerjaan sebagai berusaha dengan dibantu buruh tetap dan sebagai buruh/karyawan. Empat status pekerjaan lainnya diklasifikasikan bekerja di sektor informal. Pada bulan Agustus 2009, sekitar 61,92 persen penduduk bekerja pada kegiatan formal, dan sisanya sebesar 38,08 persen bekerja pada kegiatan informal. Tabel 3. memperlihatkan bahwa dari 4.118,39 ribu orang yang bekerja, terdapat sekitar 57,72 persen penduduk yang bekerja sebagai buruh/karyawan dan sekitar 4,20 persen bekerja dengan status berusaha dibantu buruh tetap/dibayar.
4. Angkatan Kerja, Penduduk Bekerja dan Pengangguran menurut Kabupaten/Kota
Selama periode Agustus 2008 - Agustus 2009 terjadi penurunan jumlah angkatan kerja dan penduduk bekerja pada seluruh kabupaten/kota administrasi di Provinsi DKI Jakarta. Pada bulan Agustus 2009, angkatan kerja terbanyak terdapat di Kota Jakarta Timur yaitu 1.200,58 ribu orang, disusul Kota Jakarta Barat sebesar 1.129,43 ribu orang, dan Kota Jakarta Selatan yaitu 1.089,54 ribu orang. Sedangkan untuk Kabupaten Kepulauan Seribu, Kota Jakarta Pusat dan Kota Jakarta Utara angkatan kerjanya di bawah 800 ribu orang. Bila dilihat perkembangan angkatan kerja selama Agustus 2008 - Agustus 2009 menurut kabupaten/kota administrasi, yang mengalami penurunan tertinggi adalah Kota Jakarta Timur dan Kota Jakarta Selatan, masing-masing sebesar 56,94 ribu orang dan 22,98 ribu orang.
Selama Agustus 2008 - Agustus 2009 telah terjadi perubahan penduduk bekerja menurut kabupaten/kota di Provinsi DKI Jakarta. Komposisi penduduk bekerja keadaan Agustus 2009 menurut kabupaten/kota yang terbanyak adalah Kota Jakarta Timur, Kota Jakarta Barat dan Kota Jakarta Selatan, masing-masing 1.025,14 ribu orang; 1.020,29 ribu orang; dan 961,86 ribu orang. Sedangkan untuk kabupaten/kota lainnya masih di bawah 700 ribu orang. Perkembangan penduduk bekerja selama Agustus 2008 - Agustus 2009 menurut kabupaten/kota yang mengalami penurunan terbanyak adalah Kota Jakarta Timur dan Kota Jakarta Selatan. Pada Agustus 2008, jumlah penduduk yang bekerja di Kota Jakarta Timur tercatat 1.091,15 ribu orang atau terjadi penurunan sebesar 66,01 ribu orang. Kota Jakarta Selatan, pada bulan Agustus 2008 tercatat sebanyak 979,45 ribu orang, terjadi penurunan penduduk bekerja sebanyak 17,59 banyak orang.Selama Agustus 2008 - Agustus 2009 telah terjadi perubahan TPT menurut kabupaten/kota administrasi di Provinsi DKI Jakarta. Tingkat pengangguran tertinggi terdapat di Kota Jakarta Timur 14,61 persen, disusul Kota Jakarta Utara dan Kota Jakarta Pusat masing-masing sebesar 12,39 persen. Jika dilihat tren tingkat pengangguran menurut kabupaten/kota selama periode Agustus 2008 - Agustus 2009 hampir seluruh kabupaten/kota di Provinsi DKI Jakarta mengalami penurunan, kecuali Kota Jakarta Timur mengalami peningkatan dari 13,23 persen menjadi 14,61 persen, dan Kota Jakarta Pusat mengalami kenaikan dari 11,73 persen menjadi 12,39 persen.
BAB III
PENUTUP
Pengangguran di Jakarta utara sangat naik secara drastic, dan sangat memperhatinkan bagi penduduk masyarakat setempat apalagi banyaknya pengangguran disekitar tempat tinggal yang saya tempati.
Dan untuk Negara Indonesia menduduki peringkat 133 untuk hal pengangguran didunia. Semakin rendah tingkat penganggurannya.
B. SOLUSI UNTUK MENGHILANGKAN PENGANGGURAN
Pemerintah harus membuka peluang usaha baru agar pengangguran di Jakarta utara ini. Agar semua tidak adanya orang miskin di tempat ini, tingkat kemiskinan dan pengangguran akan berkurang tidak sepesat ini.
Agar pemukiman pendudukpun tidak terlalu banyak dan menyempiti kota Jakarta. Yang seharusnya kota Jakarta sebagai tempat pencari kerja malah susah untuk mendapatkannya.
TAHUN 2008 – 2009
MAKALAH
DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS SEMESTER GANJIL
MATA KULIAH EKONOMI PEMBANGUNAN
OLEH
NAMA : NIKA SARTIKA
KELAS : 2 DD 03
NPM : 30208882
UNIVERSITAS GUNADARMA
2009
KATA PENGANTAR
Penulis mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT dan atas segala rahmat dan karunia yang telah dilimpahkan, sehingga makalah ini dapat diselesaikan.
Makalah ini merupakan tugas dari mata kuliah Ekonomi Pembangunan. Didalamnya tentang Masalah pengangguran yang diharapkan deapat bermanfaat bagi para pembaca.
Penulis menyadari makalah ini jauh dari kesempurnaan, maka kepada semua pihak yang berkenan dapat memberi kritik dan saran. Maka akan disambut baik dengan hati yang terbuka .
Akhir kata terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hungga selesainya makalah ini.
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…………………………………………………………………ii
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
I. LATAR BELAKANG MASALAH…………………………………………..1
II. RUMUSAN MASALAH......................………………………………………..2
III. TUJUAN PENULISAN………………………………………………………..2
IV. METODE PENGUMPULAN DATA………………………………………....3
V. SISTEMATIS PENULISAN…………………………………………………..3
BAB II PEMBAHASAN
A. DEFINISI PENGANGGURAN…………………………………………...4
B. MASALAHA PENGANGGURAN DI JAKARTA UTARA……………4
C. KEADAAN PENGANGGURAN DI JAKARTA UTARA………………6
D. KEADAAN ANGKATANKERJA DAN KESEMPATAN KERJA…….7
E. PENGANGGURAN MENYEBABKAN KEMISKINAN……………….8
F. DAMPAK PENGANGGURAN DI JAKARTA UTARA TERHADAP DKI JAKARTA…………………………………………………………………..9
G. REALISASI INDUSTRI UNTUK MENYERAP TENAGA KERJA DAN MENGURANGI PENGANGGURAN........................................................10
H. DATA PENGANGGURAN DI DKI JAKARTA......................................10
• Tingkat pengangguran terbuka (TPT) merupakan indicator……...12
• Laporan kerja utama Penduduk yang bekerja menurut lapangan usaha……………………………………………………………………13
• Status Pekerjaan………………………………………………………14
• Angkatan Kerja, Penduduk Bekerja dan Pengangguran menurut Kabupaten/Kota…………………………………………….................16
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN…………………………………………………………….18
B. SOLUSI MASALAH PENGANGGURAN DI JAKARTA UTARA.......18
BAB I
PENDAHULUAN
I. LATAR BELAKANG MASALAH
Beberapa tahun di Negara kita mengalami banyaknya Pemberhentian hari kerja (PHK). Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada yang mampu menyerapnya. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya.
Tingkat pengangguran dapat dihitung dengan cara membandingkan jumlah pengangguran dengan jumlah angkatan kerja yang dinyatakan dalam persen. Ketiadaan pendapatan menyebabkan penganggur harus mengurangi pengeluaran konsumsinya yang menyebabkan menurunnya tingkat kemakmuran dan kesejahteraan. Pengangguran yang berkepanjangan juga dapat menimbulkan efek psikologis yang buruk terhadap penganggur dan keluarganya. Tingkat pengangguran yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan kekacauan politik keamanan dan sosial sehingga mengganggu pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Akibat jangka panjang adalah menurunnya GNP dan pendapatan per kapita suatu negara. Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, dikenal istilah "pengangguran terselubung" di mana pekerjaan yang semestinya bisa dilakukan dengan tenaga kerja sedikit, dilakukan oleh lebih banyak orang.
II. RUMUSAN MASALAH
Seperti yang diuraikan pada latar belakang, maka penulisan mengambil rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa pengertian definisi pengangguran
2. Apa yang menjadi masalah pengangguran di Jakarta utara
3. Bagaimana keadaan pengangguran di Jakarta utara
4. Bagaimana angkata kkerja dann kesempatan kerja
5. Pengangguran mengakibatkan kemiskinan
6. Apa dampak pengangguran di Jakarta utara
7. Apa janji realisasi industri untuk menyerap tenaga kerja dan mengurangi pengangguran
8. Sajian data pengangguran dsi Jakarta utara
III. TUJUAN PENULISAN
Tujuan penulisan membuat makalah yang berjudul “Masalah Pengangguran di jakarta utara” adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui definisi pengangguran
2. Mengetahui apa yang menjadi masalah pengangguran di Jakarta utara
3. Mengetahui keadaan pengangguran di Jakarta utara
4. Mengetahui angkatan kerja dan kesempatan kerja
5. Mengetahui akibat yang ditimbulkan dari pengangguran
6. Mengetahuio dampak pengangguran di Jakarta utara terhadap pertumbuhan Dki Jakarta
7. Merealisasikan industri untuk menyerap tenaga kerja dan mengurangi pengangguran
8. Mengetahui data – data peengangguran
IV. METODE PENGUMPULAN DATA
Dalam penyusunan makalah ini, perlu sekali pengumpulan data serta informasi actual yang sesuai dengan masalah yang akan dibahas. Sehubungan dengan materi yang akan dipelajarin dan juga dengan makalah yang dibuat. Dengan beberapa pengumpulan data yang pertama sedikit dari narasumber dan internet, kedua dari ilmu dan pengalaman sehari – hari.
V. SISTEMATIS PENULISAN
Makakah “ Masalah pengangguran di Jakarta utara ini disusun dengan urutan sebgai berikut :
Bab 1 Pendahuluan
Pada bagian ini dijelaskan tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, metode pengumpulan data, dan sistematis penulisan.
Bab 2 Pembahasan
Pada bab ini ditemukan tentang pembahasan yang terdiri dari definisi pengangguran, apa masalah pengangguran di Jakarta utara, bagaimana keadaan pengangguran di Jakarta utara, bagaimana keadaan kerja dan keadaan kesempatan kerja, mengapa pengangguran menyebabkan kemiskinan, apa dampak dari akibat pengangguran di Jakarta utara terhadap pertumbuhan di Dki Jakarta, apa realisasi industri untuk menyerap tenaga kerja dan mengurangi pengangguran, serta penyajian data pengangguran di Jakarta utara.
Bab 3 Penutup
Bab terakhir ini membuat kesimpulan dan solusi terhadap pengangguran di Jakarta utara.
Daftar pustaka
Pada bagian berisis referensi – referensi dari berbagai media yang penulis gunakan untuk pembuatan makalah ini yang disjikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. DEFINISI PENGANGGURAN
Pengangguran adalah orang yang masuk dalam angkatan kerja (15 sampai 64 tahun) yang sedang mencari pekerjaan dan belum mendapatkannya. Orang yang tidak sedang mencari kerja contohnya seperti ibu rumah tangga, siswa sekolan smp, sma, mahasiswa perguruan tinggi, dan lain sebagainya yang karena sesuatu hal tidak/belum membutuhkan pekerjaan.
Definisi menurut sadono sukirno
Pengangguran adalah suatu keadaan dimana seseorang yang tergolong dalam angkatan kerja ingin mendapatkan pekerjaan tetapi belum dapat memperolehnya.
Definisi pengangguran berdasarkan istilah umum dari pusat dan latihan tenaga kerja
Pengangguran adalah orang yang tidak mampu mendapatkan pekerjaan yang menghasilkan uang melainkan tidak bekerja
B. MASALAH PENGANGGURAN DI JAKARTA UTARA
Pengangguran adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama minggu, atau seseorang yang tidak bekerja.
Pengangguran disebabkan karena tidak ada kesempatan kerja dan tidak sebanding tingkatan kerja yang dibutuhkan. Pengangguran sering kali menjadi masalah perekonomian karena danya pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakatan akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah – masalah social lainnya.
Tingkat pengangguran dapat dihitung dari perbandingan jumlah pengangguran dengan jumlah angkatan kerja yang dinyatakan dalam poersen setiap pertahun.
Ketiadaan pendapatan menyebabkan karena pengangguran harus mengurangi jumlah konsumsi yang dibutuhkan. Pengangguran berkepanjangan juga dapat menimbulkan efek psikologisyang buruk terhadap pengangguran keluarga.
Meski menyandang predikat sebagai kota besar sekaligus Ibukota Negara, ternyata Jakarta masih menyimpan masalah serius. Selain masalah kemacetan lalu lintas, tingginya jumlah penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS), dan buta huruf, Jakarta juga dihadapkan pada masalah tingginya angka pengangguran. Buktinya, jumlah pengangguran di DKI selalu meningkat setiap tahun. Hingga Agustus 2008 ini, pengangguran di Jakarta berjumlah 543 ribu orang atau bertambah 998 orang dibanding tahun sebelumnya yang berjumlah 542.002 orang. Penganggur itu rata-rata berusia 19 hingga 23 tahun.
Peningkatan jumlah pengangguran ini salah satunya disebabkan oleh derasnya laju urbanisasi dari daerah ke Jakarta. Selain juga diakibatkan banyaknya lulusan SMA yang tidak mampu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Kondisi ini tak pelak membuat Dinas Tenaga kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) DKI Jakarta bekerja ekstra keras. Deded Sukandar, Kepala Disnakertrans DKI mengatakan peningkatann jumlah pengangguran ini bukan hanya masalah Pemprov DKI saja, melainkan juga menjadi masalah provinsi-provinsi lain di Indonesia. Bahkan sudah menjadi masalah nasional yang juga turut dipikirkan oleh pemerintah pusat. Sebab, menurut Deded, tingginya jumlah pengangguran di DKI disebabkan oleh tak terbendungnya laju urbanisasi dari berbagai daerah ke Jakarta.
Disnakertrans sedang memilah-milah dari jumlah 543 ribu pengangguran ini, mana yang memang asli usia produktif yang menganggur asal Jakarta dan mana yang berasal dari luar Jakarta. Pemilahan ini berguna untuk mencari pemecahan masalah yang tepat. Disnakertrans juga berupaya menurunkan jumlah pengangguran hingga 20 persen di tahun 2008 dan 2009.
Salah satunya ada dengan meningkatkan peranan Balai Latihan Kerja (BLK) di lima wilayah Provinsi DKI Jakarta. BLK yang berjumlah 20 buah ini bisa menampung 60 orang yang tidak punya pekerjaan untuk ditempa dalam berbagai keterampilan seperti menjahit, bengkel, tata boga, komputer, dan keterampilan lainnya yang diperlukan oleh hotel, perusahaan motor bahkan instansi pemerintahan daerah setempat.
C. KEADAAN PENGANGGURAN DI JAKARTA UTARA
Tingkat pengangguran terbuka (TPT) di DKI Jakarta hingga Agustus 2009 mencapai 569.340 orang atau 12,15 persen, sehingga mengalami penurunan 0,01 persen dibanding TPT pada Agustus 2008 yang mencapai 580.510 orang atau 12,16 persen.
Di Jakarta Timur, jumlah pengangguran naik dari 166.370 orang pada 2008 menjadi 175.440 orang di tahun 2009, di Jakarta Pusat, jumlah TPT tahun 2008 sebanyak 56.350 orang naik menjadi 59.540 orang pada tahun 2009, dan di Kepulauan Seribu mengalami kenaikan dari 92.000 orang di tahun 2008 menjadi 97.000 orang.
Sementara itu, daerah yang mengalami penurunan angka TPT yaitu Jakarta Selatan dari 133.070 pengangguran (2008) menjadi 127.680 orang (2009), Jakarta Barat 114.210 orang (2008) turun menjadi 109.140 orang (2009), Jakarta Utara 109.600 orang (2008) turun menjadi 96.570 orang (2009).
Tingkat pendidikan yang paling banyak menyumbangkan angka pengangguran yaitu lulusan siswa menengah kejuruan (SMK) dan yang paling kecil lulusan Diploma I-III, dengan rincian TPT dari lulusan SMK 156.390 orang, lulusan SMU 146.198 orang, lulusan SMP 86.866 orang, lulusan SD 75.203 orang, lulusan universitas (S1-S3) 73.417 orang, dan lulusan diploma (DI-DIII) 31.266 orang.
Pada periode Agustus 2008 hingga Agustus 2009, ada penambahan penduduk yang bekerja di sektor primer yakni 9.080 orang, sektor sekunder 3.080 orang. Sedangkan di sektor tersier jumlahnya turun menjadi 85.740 orang.
Sementara jumlah angkatan kerja di Jakarta pada Agustus 2009 mencapai 4,69 juta orang, atau berkurang 84.750 orang dibanding periode Agustus 2008 yang mencapai 4,77 juta orang.
Penurunan tingkat penangguran tersebut terjadi seiring dengan berbagai upaya Pemerintah Provinsi DKI untuk menekan jumlah pengangguran, antara lain dengan membuka peluang kerja seluas-luasnya dan program transmigrasi.
D. KEADAAN ANGKATAN KERJA DAN KESEMPATAN KERJA
Kesempatan kerja merupakan hubungan antara angkatan kerja dengan kemampuan penyerapan tenaga kerja. Pertambahan angkatan kerja harus diimbangi dengan investasi yang dapat menciptakan kesempatan kerja. Dengan demikian, dapat menyerap pertambahan angkatan kerja.
Banyak sedikitnya jumlah angkatan kerja tergantung komposisi jumlah penduduknya. Kenaikan jumlah penduduk terutama yang termasuk golongan usia kerja akan menghasilkan angkatan kerja yang banyak pula. Angkatan kerja yang banyak tersebut diharapkan akan mampu memacu meningkatkan kegiatan ekonomi yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pada kenyataannya, jumlah penduduk yang banyak tidak selalu memberikan dampak yang positif terhadap kesejahteraan. Coba Anda perhatikan bagan di bawah ini!
Dari bagan di bawah terlihat bahwa angkatan kerja merupakan bagian dari penduduk yang termasuk ke dalam usia kerja. Usia Kerja adalah suatu tingkat umur seseorang yang diharapkan sudah dapat bekerja dan menghasilkan pendapatannya sendiri. Usia kerja ini berkisar antara 14 sampai 55 tahun. Selain penduduk dalam usia kerja, ada juga penduduk di luar usia kerja, yaitu di bawah usia kerja dan di atas usia kerja. Penduduk yang dimaksud yaitu anak-anak usia sekolah dasar dan yang sudah pensiun atau berusia lanjut.
Bagian lain dari penduduk dalam usia kerja adalah bukan angkatan kerja. Yang termasuk di dalamnya adalah para remaja yang sudah masuk usia kerja tetapi belum bekerja atau belum mencari perkerjaan karena masih sekolah. Ibu rumah tangga pun termasuk ke dalam kelompok bukan angkatan kerja.
Penduduk dalam usia kerja yang termasuk angkatan kerja, dikelompokkan menjadi tenaga kerja (bekerja) dan bukan tenaga kerja (mencari kerja atau menganggur). Tenaga Kerja (man power) adalah bagian dari angkatan kerja yang berfungsi dan ikut serta dalam proses produksi serta menghasilkan barang atau jasa.
E. PENGANGGURAN MENYEBABKAN KEMISKINAN
Besarnya Angkatan Kerja Tidak Seimbang dengan Kesempatan Kerja
Ketidakseimbangan terjadi apabila jumlah angkatan kerja lebih besar daripada kesempatan kerja yang tersedia. Kondisi sebaliknya sangat jarang terjadi.
Struktur Lapangan Kerja Tidak Seimbang
Kebutuhan jumlah dan jenis tenaga terdidik dan penyediaan tenaga terdidik tidak seimbang. Apabila kesempatan kerja jumlahnya sama atau lebih besar daripada angkatan kerja, pengangguran belum tentu tidak terjadi. Alasannya, belum tentu terjadi kesesuaian antara tingkat pendidikan yang dibutuhkan dan yang tersedia. Ketidakseimbangan tersebut mengakibatkan sebagian tenaga kerja yang ada tidak dapat mengisi kesempatan kerja yang tersedia.
Meningkatnya peranan dan aspirasi Angkatan Kerja Wanita dalam seluruh struktur Angkatan Kerja Indonesia
Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Kerja antar daerah tidak seimbang
Jumlah angkatan kerja disuatu daerah mungkin saja lebih besar dari kesempatan kerja, sedangkan di daerah lainnya dapat terjadi keadaan sebaliknya. Keadaan tersebut dapat mengakibatkan perpindahan tenaga kerja dari suatu daerah ke daerah lain, bahkan dari suatu negara ke negara lainnya.
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KEMISKINAN
Tidak sulit mencari faktor-faktor penyebab kemiskinan, tetapi dari faktor-faktor tersebut sangat sulit memastikan mana yang merupakan penyebab sebenarnya serta mana yang berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap perubahan kemiskinan
Tingkat dan laju pertumbuhan output
Tingkat upah neto
Distribusi pendapatan
Kesempatan kerja
Tingkat inflasi
Pajak dan subsidi
Investasi
Alokasi serta kualitas SDA
Ketersediaan fasilitas umum
Penggunaan teknologi
Tingkat dan jenis pendidikan
Kondisi fisik dan alam
F. DAMPAK PENGANGGURAN DI JAKARTA UTARA TERHADAP DI DKI JAKARTA
Walikota menyatakan bahwa pengangguran di dki jakarta sangat meningat dari tahun sebelum – belumnya. Pendapatan masyarakat pun sangat bekurang. Dikarenakan dari persoalan tidak adanya lowongan pekerjaan atau peluang bagi pencari kerja. Lapangan pekerjaan juga sangat kurang terhadap perusahaan yang mau membuka peluang bagi pencari kerja.
Tingkat pengangguranpun akan semakin meningkat jika tidak adanya penanggulangan terhadap pengangguran yang tidak bekerja. Dan tingkat kemiskinanpun akan semakin banyak.
Untuk cara penanggulangannya sebagai berikut :
• Membuka peluang usaha baru
• Meminjamkan modal kerja bagi yang ingin membuka usaha
• Memberikan solusi pinjaman sementara
• Adanya penangungan buat hidup
G. REALISASI INDUSTRI UNTUK MENYERAP TENAGA KERJA DAN MENGURANGI PENGANGGURAN
Masa jaya waktu pemerintahan pada masa order baru, perusahaan pada masa itu sangat membutuhkan banyak karyawan bagi lulusan dan tingkatan pendididkan yang dibutuhkan perusahaan. Tapi perusahaan sekarang samgat jarang membutuhkan karyawan baru. Oleh sebab itu didki jakarta kekurangan lahan perindustrian.
Dan jarang membuka lowongan pekerjaan bagi para pengangguran di daerah dki ini. Sungguh sangat sulit bagi yang ingin bekerja sedangkan kesempatan kerja itu sangat jarang didapat bagi yang bersedia untuk mencari pekerjaan.
H. DATA PENGANGGURAN DI DKI JAKARTA
Struktur angkatan kerja di Provinsi DKI Jakarta pada bulan Agustus 2009 secara keseluruhan mengalami perubahan. Pada bulan Agustus 2009, jumlah angkatan kerja tercatat 4,69 juta orang, berkurang sebanyak 84,75 ribu orang bila dibandingkan dengan keadaan Agustus 2008 sebanyak 4,77 juta orang. Penurunan angkatan kerja terjadi pada angkatan kerja laki-laki dan perempuan. Angkatan kerja laki-laki berkurang sebanyak 22,95 ribu orang yaitu dari 2.856,01 ribu orang pada tahun 2008 menjadi 2.833,06 ribu orang pada tahun 2009. Sementara angkatan kerja perempuan mengalami penurunan sebanyak 61,80 ribu orang, yaitu dari 1.916,47 ribu orang pada tahun 2008 menjadi 1.854,67 ribu orang (Tabel 1). Penurunan angkatan kerja ini diduga pengaruh krisis keuangan global yang melanda negara Amerika Serikat dan negara lainnya sehingga berdampak terhadap perekonomian di Indonesia, khususnya Provinsi DKI Jakarta. Penduduk yang terkena PHK dan yang mencari kerja akhirnya sebagian memasuki struktur bukan angkatan kerja terutama mengurus rumah tangga.
Seiring dengan menurunnya jumlah angkatan kerja, jumlah penduduk yang bekerja juga mengalami penurunan. Penduduk yang bekerja berkurang dari 4,19 juta orang pada Agustus 2008 menjadi 4,12 juta orang pada Agustus 2009 atau terjadi penurunan 73,58 ribu orang. Penurunan jumlah penduduk yang bekerja didominasi oleh kaum perempuan. Penurunan penduduk perempuan yang bekerja sebesar 53,90 ribu orang yaitu dari 1.659,59 ribu orang pada Agustus 2008 menjadi 1.605,69 ribu orang pada Agustus 2009. Penduduk laki-laki yang bekerja juga mengalami penurunan sebesar 19,67 ribu orang yaitu dari 2.532,37 ribu orang pada Agustus 2008 menjadi 2.512,70 ribu orang pada Agustus 2009.
Adanya penurunan penduduk bekerja terutama disebabkan kondisi perekonomian yang kurang menguntungkan. Selama periode Agustus 2008 - 2009 ada perusahaan besar yang tidak beroperasi atau mengurangi produksi akibat terimbas krisis keuangan global, terutama perusahaan yang bahan bakunya tergantung bahan impor. Sebagai implikasi dari tutupnya beberapa perusahaan maka perusahaan terpaksa merumahkan sejumlah buruh/karyawan. Lemahnya kondisi ekonomi, khususnya pada awal Semester I, juga berdampak terhadap sektor informal seperti menurunnya jumlah orang yang berusaha dibantu buruh tidak tetap dan pekerja keluarga.
Tingkat pengangguran terbuka (TPT) merupakan indikator yang menggambarkan persentase angkatan kerja yang tidak bekerja dan sedang mencari pekerjaan atau mempersiapkan suatu usaha. Atau mereka yang tergolong angkatan kerja namun tidak terserap dalam pasar kerja. Selama periode Agustus 2008 - Agustus 2009, tingkat pengangguran terbuka (TPT) mengalami sedikit penurunan dari 12,16 persen menjadi 12,15 persen. TPT perempuan mengalami peningkatan dari 13,40 persen menjadi 13,42 persen, sedangkan TPT laki-laki mengalami penurunan dari 11,33 persen menjadi 11,31 persen.
Secara absolut, jumlah penganggur mengalami penurunan sebesar 11,17 ribu orang yaitu dari 580,51 ribu orang pada Agustus 2008 menjadi 569,34 ribu orang pada Agustus 2009. Selama setahun terakhir terjadi penurunan jumlah penganggur laki-laki, sebesar 3,28 ribu orang yaitu dari 323,64 ribu orang pada Agustus 2008 menjadi 320,36 ribu orang pada Agustus 2009, sedangkan jumlah penganggur perempuan secara absolut mengalami penurunan sebesar 7,89 ribu orang yaitu dari 256,87 ribu orang pada Agustus 2008 menjadi 248,98 ribu orang pada Agustus 2009.
Penurunan jumlah penganggur disebabkan menurunnya kesempatan kerja pada beberapa lapangan pekerjaan. Selain itu juga, disebabkan oleh tumbangnya beberapa perusahaan besar yang terimbas oleh krisis keuangan global. Sementara ada beberapa perusahaan yang mengurangi jumlah buruh/karyawan. Puncak dampak krisis global, khususnya Provinsi DKI Jakarta terjadi pada bulan Mei-Juni 2009, karena banyak perusahaan yang habis masa ordernya. Selama 1 bulan terhitung Juli 2009, kemungkinan buruh/karyawan yang di PHK sedang cooling down, atau mereka belum berupaya melakukan aktivitas mencari kerja atau mempersiapkan suatu usaha. Sehingga saat dilakukan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada bulan Agustus 2009, aktivitas mencari kerja dan mempersiapkan usaha belum terdeteksi. Diduga, selama bulan Juli-Agustus 2009, ada pergeseran penduduk yang pada awalnya berstatus angkatan kerja (bekerja dan mencari kerja/mempersiapkan suatu usaha) masuk ke dalam struktur bukan angkatan kerja, terutama mengurus rumah tangga (Tabel 1).
Selama Agustus 2008-Agustus 2009 terjadi penurunan tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK). Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) merupakan indikator yang menggambarkan penduduk usia kerja yang terlibat aktif dalam kegiatan ekonomi. Pada bulan Agustus 2009, TPAK Provinsi DKI Jakarta mencapai 66,60 persen. Angka ini mengalami penurunan sebesar 2,08 persen bila dibandingkan dengan keadaan Agustus 2008 (68,68 persen). TPAK laki-laki menurun dari 84,41 persen pada Agustus 2008 menjadi 82,90 persen pada Agustus 2009, begitu pula TPAK perempuan menurun dari 53,75 persen pada Agustus 2008 menjadi 51,21 persen pada Agustus 2009.
2. Laporan kerja utama Penduduk yang bekerja menurut lapangan usaha, dibedakan menurut tiga sektor utama yaitu sektor primer, sekunder dan tersier. Sektor primer merupakan sektor pertanian dan pertambangan, sektor sekunder merupakan agregat sektor industri pengolahan, sektor konstruksi, serta sektor listrik, gas dan air. Sektor tersier merupakan gabungan sektor perdagangan, rumah makan dan jasa akomodasi; sektor angkutan dan komunikasi; sektor keuangan dan jasa perusahaan; serta sektor jasa kemasyarakatan.
Tabel 2 memperlihatkan struktur penduduk yang bekerja menurut tiga sektor utama. Selama periode Agustus 2008–Agustus 2009, secara umum jumlah penduduk yang bekerja mengalami penurunan. Pada Agustus 2009, jumlah penduduk bekerja pada sektor tersier tercatat 3.205,71 ribu orang, dan pada Agustus 2008 tercatat 3.291,45 ribu orang, atau terjadi penurunan sebanyak 85,74 ribu orang. Penurunan jumlah penduduk yang bekerja pada sektor ini sebagian besar berasal dari sektor perdagangan, rumah makan dan jasa akomodasi; sektor lembaga keuangan, real estate, usaha persewaan dan jasa perusahaan; serta sektor transportasi dan pergudangan. Jumlah penduduk yang bekerja pada sektor primer dan sektor sekunder mengalami peningkatan, masing-masing sebesar 9,08 ribu orang, dan 3,08 ribu orang bila dibandingkan keadaan Agustus 2008.
3. Status Pekerjaan
Kegiatan formal dan informal dapat dilihat berdasarkan pendekatan status pekerjaan. Dari enam kategori status pekerjaan utama, yang diklasifikasikan bekerja di sektor formal adalah status pekerjaan sebagai berusaha dengan dibantu buruh tetap dan sebagai buruh/karyawan. Empat status pekerjaan lainnya diklasifikasikan bekerja di sektor informal. Pada bulan Agustus 2009, sekitar 61,92 persen penduduk bekerja pada kegiatan formal, dan sisanya sebesar 38,08 persen bekerja pada kegiatan informal. Tabel 3. memperlihatkan bahwa dari 4.118,39 ribu orang yang bekerja, terdapat sekitar 57,72 persen penduduk yang bekerja sebagai buruh/karyawan dan sekitar 4,20 persen bekerja dengan status berusaha dibantu buruh tetap/dibayar.
4. Angkatan Kerja, Penduduk Bekerja dan Pengangguran menurut Kabupaten/Kota
Selama periode Agustus 2008 - Agustus 2009 terjadi penurunan jumlah angkatan kerja dan penduduk bekerja pada seluruh kabupaten/kota administrasi di Provinsi DKI Jakarta. Pada bulan Agustus 2009, angkatan kerja terbanyak terdapat di Kota Jakarta Timur yaitu 1.200,58 ribu orang, disusul Kota Jakarta Barat sebesar 1.129,43 ribu orang, dan Kota Jakarta Selatan yaitu 1.089,54 ribu orang. Sedangkan untuk Kabupaten Kepulauan Seribu, Kota Jakarta Pusat dan Kota Jakarta Utara angkatan kerjanya di bawah 800 ribu orang. Bila dilihat perkembangan angkatan kerja selama Agustus 2008 - Agustus 2009 menurut kabupaten/kota administrasi, yang mengalami penurunan tertinggi adalah Kota Jakarta Timur dan Kota Jakarta Selatan, masing-masing sebesar 56,94 ribu orang dan 22,98 ribu orang.
Selama Agustus 2008 - Agustus 2009 telah terjadi perubahan penduduk bekerja menurut kabupaten/kota di Provinsi DKI Jakarta. Komposisi penduduk bekerja keadaan Agustus 2009 menurut kabupaten/kota yang terbanyak adalah Kota Jakarta Timur, Kota Jakarta Barat dan Kota Jakarta Selatan, masing-masing 1.025,14 ribu orang; 1.020,29 ribu orang; dan 961,86 ribu orang. Sedangkan untuk kabupaten/kota lainnya masih di bawah 700 ribu orang. Perkembangan penduduk bekerja selama Agustus 2008 - Agustus 2009 menurut kabupaten/kota yang mengalami penurunan terbanyak adalah Kota Jakarta Timur dan Kota Jakarta Selatan. Pada Agustus 2008, jumlah penduduk yang bekerja di Kota Jakarta Timur tercatat 1.091,15 ribu orang atau terjadi penurunan sebesar 66,01 ribu orang. Kota Jakarta Selatan, pada bulan Agustus 2008 tercatat sebanyak 979,45 ribu orang, terjadi penurunan penduduk bekerja sebanyak 17,59 banyak orang.Selama Agustus 2008 - Agustus 2009 telah terjadi perubahan TPT menurut kabupaten/kota administrasi di Provinsi DKI Jakarta. Tingkat pengangguran tertinggi terdapat di Kota Jakarta Timur 14,61 persen, disusul Kota Jakarta Utara dan Kota Jakarta Pusat masing-masing sebesar 12,39 persen. Jika dilihat tren tingkat pengangguran menurut kabupaten/kota selama periode Agustus 2008 - Agustus 2009 hampir seluruh kabupaten/kota di Provinsi DKI Jakarta mengalami penurunan, kecuali Kota Jakarta Timur mengalami peningkatan dari 13,23 persen menjadi 14,61 persen, dan Kota Jakarta Pusat mengalami kenaikan dari 11,73 persen menjadi 12,39 persen.
BAB III
PENUTUP
Pengangguran di Jakarta utara sangat naik secara drastic, dan sangat memperhatinkan bagi penduduk masyarakat setempat apalagi banyaknya pengangguran disekitar tempat tinggal yang saya tempati.
Dan untuk Negara Indonesia menduduki peringkat 133 untuk hal pengangguran didunia. Semakin rendah tingkat penganggurannya.
B. SOLUSI UNTUK MENGHILANGKAN PENGANGGURAN
Pemerintah harus membuka peluang usaha baru agar pengangguran di Jakarta utara ini. Agar semua tidak adanya orang miskin di tempat ini, tingkat kemiskinan dan pengangguran akan berkurang tidak sepesat ini.
Agar pemukiman pendudukpun tidak terlalu banyak dan menyempiti kota Jakarta. Yang seharusnya kota Jakarta sebagai tempat pencari kerja malah susah untuk mendapatkannya.
Senin, 28 Desember 2009
tugas rangkuman terakhir
NAMA : NIKA SARTIKA
KELAS : 2 DD 03
NPM : 30208882
BAB 11
PEMBANGUNAN DAERAH
1. PENGERTIAN PEMBANGUNAN EKONOMI
Adalah untuk mengurangin disaparitas atau ketimpangan pembangunan antar daerah dan antar sub daerah serta antar warga masyarakat (pemerataan dan kedilan).
2. TEORI PERTUMBUHAN DAN PEMBANGUNAN EKONOMI DAERAH
Dalam zaman ahli ekonomi klasik, seperti Adam Smith dalam buku karangannya yang berjudul An Inguiry into the Nature and Causes of the Wealt Nations, menganalisis sebab berlakunya pertumbuhan ekonomidan factor yang menentukan pertumbuhan ekonomi. Setelah Adam Smith, beberapa ahli ekonomi klasik lainnya seperti Ricardo, Malthus, Stuart Mill, juga membahas masalah perkembangan ekonomi .
A.Teori Inovasi Schum Peter
Pada teori ini menekankan pada faktor inovasi enterpreneur sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi kapitalilstik.Dinamika persaingan akan mendorong hal ini.
B.Model Pertumbuhan Harrot-Domar
Teori ini menekankan konsep tingkat pertumbuhan natural.Selain kuantitas faktor produksi tenaga kerja diperhitungkan juga kenaikan efisiensi karena pendidikan dan latihan.Model ini dapat menentukan berapa besarnya tabungan atau investasi yang diperlukan untuk memelihar tingkat laju pertumbuhan ekonomi natural yaitu angka laju pertumbuhan ekonomi natural dikalikan dengan nisbah kapital-output.
C.Model Input-Output Leontief.
Model ini merupakan gambaran menyeluruh tentang aliran dan hubungan antarindustri. Dengan menggunakan tabel ini maka perencanaan pertumbuhan ekonomi dapat dilakukan secara konsisten karena dapat diketahui gambaran hubungan aliran input-output antarindustri. Hubungan tersebut diukur dengan koefisien input-output dan dalam jangka pendek/menengah dianggap konstan tak berubah .
D.Model Pertumbuhan Lewis
Model ini merupakan model yang khusus menerangkan kasus negar sedang berkembang banyak(padat)penduduknya.Tekanannya adalah pada perpindahan kelebihan penduduk disektor pertanian ke sektor modern kapitalis industri yang dibiayai dari surplus keuntungan.
E.Model Pertumbuhan Ekonomi Rostow
Model ini menekankan tinjauannya pada sejarah tahp-tahap pertumbuhan ekonomi serta ciri dan syarat masing-masing. Tahap-tahap tersebut adalah tahap masyarakat tradisional, tahap prasyarat lepas landas, tahap lepas landas, ahap gerakan ke arah kedewasaan, dan akhirnya tahap konsimsi tinggi
3. PARADIGMA BARU TEORI PEMBANGUNAN DAERAH
1. Perlu ada satu sistem birokrasi yang memiliki komitmen untuk mengutamakan pelayanan pada masyarakat sehingga bisa memberikan pelayanan yang efisien, biaya murah, dan tidak diskriminatif.
2. Perlu ada pemisahan sistem manajemen pengelolaan PNS yang bekerja di lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif untuk memperjelas tugas dan tanggung jawab masing-masing.
3. Perlu menerapkan prinsip-prinsip “tata kelola pemerintahan yang baik” dalam birokrasi.
4. Perlu melakukan sinkronisasi dan harmonisasi terhadap peraturan perundang- undangan yang mendukung reformasi birokrasi serta menyusun undang-undang tentang pelayanan publik, administrasi pemerintahan, dan perilaku aparatur.
5. Perlu merumuskan mekanisme keluhan publik terhadap PNS dan merumuskan sanksi pidana terhadap tindak pidana jabatan, dan membentuk undang undang tentang citizen law suit.
6. Perlu melakukan pembaruan hukum terhadap peraturan perundang-undangan mengenai birokrasi yang:
a. Berparadigma desentralisasi.
b. Berorientasi kepada pelayanan publik.
c. Berlandaskan pada prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan yang baik.
d. Menghapus ego sektoral.
e. Menutup semua celah yang manipulatif dan berpotensi KKN.
f. Populis dan responsif.
7. Perlu peningkatkan partisipasi publik dalam setiap tahap pembuatan peraturan perundang-undangan, khususnya yang berkaitan dengan pengawasan publik
4. PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
Suatu usaha yang sistematik dari beberapa pelaku (actor) baik umum publik atau pemerintah swasta maupun kelompok masyarakat lainnya pada tingkatan yang berbeda untuk saling ketergantungan dan keterkaitan aspek fisik social ekonomi.dan aspek lingkungan lainnya
5. TAHAP – TAHAP PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
• Perumusan dan penentuan tujuan
• Pengujian atau analisis opsi atau pilihan yang tersedia
• Pemilihan rangkaian tindakan atauk kegiatan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan dan disepakati.
6. PERAN PEMERINTAH DALAM PEMBANGUNAN DAERAH
1. Beberapa negara sedang berkembang mengalami ketidak stabilan sosial, politik, dan ekonomi. Ini merupakan sumber yang menghalangi pertumbuhan ekonomi. Adanya pemerintah yang kuat dan berwibawa menjamin terciptanya keamanan dan ketertiban hukum serta persatuan dan perdamaian di dalam negeri. Ini sangat diperlukan bagi terciptanya iklim bekerja dan berusaha yang merupakan motor pertumbuhan ekonomi.
2. Ketidakmampuan atau kelemahan setor swasta melaksanakan fungsi entreprenurial yang bersedia dan mampu mengadakan akumulasi kapital dan mengambil inisiatif mengadakan investasi yang diperlukan untuk memonitori proses pertumbuhan.
3. Pertumbuhan ekonomi merupakan hasil akumulasi kapital dan investasi yang dilakukan terutama oleh sektor swasta yang dapat menaikkan produktivitas perekonomian. Hal ini tidak dapat dicapai atau terwujud bila tidak didukung oleh adanya barang-barang dan pelayanan jasa sosial seperti sanitasi dan program pelayanan kesehatan dasr masyarakat, pendidikan, irigasi, penyediaan jalan dan jembatan serta fasilitas komunikasi, program-program latihan dan keterampilan, dan program lainnya yang memberikan manfaat kepada masyarakat.
4. Rendahnya tabungan-investasi masyarakat (sekor swasta) merupakan pusat atau faktor penyebab timbulnya dilema kemiskinan yang menghambat pertumbuhan ekonomi. Seperti telah diketahui hal ini karena rendahnya tingkat pendapatan dan karena adanya efek demonstrasi meniru tingkat konsumsi di negara-negara maju olah kelompok kaya yang sesungguhnya bias menabung.
5. Hambatan sosial utama dalam menaikkan taraf hidup masyarakat adalah jumlah penduduk yang sangat besar dan laju pertumbuhannya yang sangat cepat. Program pemerintahlah yang mampu secara intensif menurunkan laju pertambahan penduduk yang cepat lewat program keluarga berencana dan melaksanakan program-program pembangunan pertanian atau daerah pedesaan yang bisa mengerem atau memperlambat arus urbanisasi penduduk pedesaan menuju ke kota-kota besar dan mengakibatkan masalah-masalah social, politis, dan ekonomi.
6. Pemerintah dapat menciptakan semangat atau spirit untuk mendorong pencapaian pertumbuhan ekonomi yang cepat dan tidak hanya memerlukan pengembangan faktor penawaran saja, yang menaikkan kapasitas produksi masyarakat, yaitu sumber-sumber alam dan manusia, kapital, dan teknologi;tetapi juga faktor permintaan luar negeri. Tanpa kenaikkan potensi produksi tidak dapat direalisasikan.
BAB 12
HUTANG LUAR NEGERI DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA
1. MODAL ASING DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI
Alat pembayaran luar negeri yang tidak merupakan bagian dari kekayaan devisa Indonesia, yang dengan persetujuan Pemerintah digunakan untuk pembiayaan perusahaan di Indonesia.
Alat-alat untuk perusahaan, termasuk penemuan-penemuan baru milik orang asing dan bahan-bahan, yang dimasukkan dari luar ke dalam wilayah Indonesia, selama alat-alat terse-but tidak dibiayai dari kekayaan devisa Indonesia.
Bagian dari hasil perusahaan yang berdasarkan Undang-undang ini diperkenankan ditransfer, tetapi dipergunakan untuk membiayai perusahaan di Indonesia.
Adapun modal asing dalam Undang-undang ini tidak hanya berbentuk valuta asing, tetapi meliputi pula alat-alat perlengkapan tetap yang diperlukan untuk menjalankan perusahaan di Indonesia, penemuan-penemuan milik orang/badan asing yang dipergunakan dalam perusaha¬an di Indonesia dan keuntungan yang boleh ditransfer ke luar negeri tetapi dipergunakan kembali di Indonesia.
2. MOTIVASI NEGARA DONOR
Tentunya kepentingan motivasi berbeda antarnegara. Kalau dinilai secara menyeluruh, sulit diketahui motivasi mana yang harus diperhatikan oleh negara penerima. Kalau dinilai secara pragmatis, akan sangat masuk akal bila kepentingan pemasok dan investor negara donor yang lebih menonjol.
ada motivasi lain, dan belum tentu kehendak negara donor sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan negara penerima.
Nilai-nilai yang dianut di negara donor berbeda dengan negara penerima utang. Walau negara pengutang menyanggupi melakukan semua kehendak negara donor, belum tentu bantuan luar negeri akan tidak dikurangi atau ditingkatkan. Sebaliknya, kalau misalnya negara peminjam tak melakukan kehendak donor, belum tentu pula bantuan luar negeri akan dikurangi.
Bantuan luar negeri yang terkait adalah contoh penggunaan senjata ekonomi untuk mencapai tujuan negara donor. Bentuknya bisa ekonomi, bisa juga nonekonomi. Banyak contoh betapa senjata seperti itu ternyata tumpul.
Masalahnya di sini bukan karena kehendak donor, seperti kelestarian lingkungan dan pengurangan kemiskinan, tak penting untuk negara berkembang dibanding tujuan pertumbuhan. Tapi menggunakan senjata bantuan luar negeri tidak tepat, bahkan tumpul, mengingat motivasi yang beragam. Keinginan untuk pertumbuhan yang berkesinambungan (equitable growth) sudah seharusnya jadi tujuan tersendiri, dan tak perlu dikaitkan dengan pemberian bantuan luar negeri.
3. SUMBER – SUMBER PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN DAERAH
Desentralisasi telah menyebabkan perubahan mendasar dalam tatanan pemerintahan, sehingga terjadi perubahan pula dalam peran dan fungsi daerah dalam mengelola dan mengembangkan dirinya. Dalam kaitan dengan hal tersebut, pemerintah juga telah mengeluarkan kebijakan tentang desentralisasi bidang kesehatan yang mengatur pola hubungan pusat dan daerah.
4. STRUKTUR PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN
Pendekatan yang digunakan dalam memahami konsep dan teori penanaman modal asing adalah pendekatan ekonomi industri. Hymer (1966) dan Kindleberger (1969) menjelaskan bahwa perusahaan MNCs memiliki keunggulan teknologi dan deferensiasi produk, sehingga memungkinkan perusahaan untuk beroperasi pada pasar persaingan monopolistik.
Teori siklus produk yang dikembangkan oleh Veron (1966) mengungkapkan bahwa produk baru yang diproduksi di USA didasari oleh ciri khusus pada perekonomian USA, misalnya pendapatan per kapita yang tinggi. Pasar negara-negara industri (Eropa dan Jepang) akan dipenuhi oleh ekspor dan produksi dari negara tersebut. Lokasi industri pada akhirnya akan bergerak dari negara-negara industri maju menuju negara-negara sedang berkembang yang memiliki biaya produksi dan tenaga kerja yang lebih rendah.
BAB 13
PERTUMBUHAN EKONOMI DALAM KONSEP PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN
1. PERANAN LINGKUNGAN DALAM PEREKONOMIAN
Pengelolaan lingkungan termasuk pencegahan, penanggulangan kerusakan dan pencemaran serta pemulihan kualitas lingkungan telah menuntut dikembangkannya berbagai perangkat kebijaksanaan dan program serta kegiatan yang didukung oleh sistem pendukung pengelolaan lingkungan lainnya. Sistem tersebut mencakup kemantapan kelembagaan,sumberdaya manusia dan kemitraan lingkungan, disamping perangkat hukum dan perundangan,informasi serta pendanaan. Sifat keterkaitan (interdependensi) dan keseluruhan (holistik) dari esensi lingkungan telah membawa konsekuensi bahwa pengelolaan lingkungan, termasuk sistem pendukungnya tidak dapat berdiri sendiri, akan tetapi terintegrasikan dan menjadi roh dan bersenyawa dengan seluruh pelaksanaan pembangunan sektor dan daerah.
Lingkungan memegang peranan penting dalam perekonomian, lingkungan seringkali dikaitkan dengan proses industrialisasi. Proses industrialisasi ini sebenarnya merupakan satu jalur untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dalam arti tingkat hidup yang lebih maju maupun taraf hidup yang lebih bermutu. Dengan kata lain pembangunan industri merupakan suatu fungsi dari tujuan pokok kesejahteraan rakyat bukan nerupakan kegiatan yang mandiri hanya untuk mencapai fisik saja. Industrialisasi juga tidak terlepas dari usaha untuk meningkatkan mutu SDM dan kemampuannya memanfaatkan secara optimal sumber alam dan sumber daya lainnya.
2. INDUSRTIALISASI DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN
Industri mempunyai peranan sebagai sektor pemimpin ( leading sector ). Leading sector ini maksudnya adalah dengan adanya pembangunan industri maka akan memacu dan mengangkat pembangunan sektor-sektor lainnya seperti sector pertanian dan sektor jasa misalnya pertumbuhan industri yang pesat akan merangsang pertumbuhan sektor pertanian untuk menyediakan bahan-bahan baku bagi industri. Sektor jasa pun berkembang dengan adanya industrialisasi tersebut, misalnya berdirinya lembaga-lembaga keuangan, lembaga-lembaga pemasaran/periklanan dan sebagainya, yang kesemuanya itu nati akan mendukung lajunya pertumbuhan industri.
Dari uraian diatas bisa ditelaah peranan industry dalam perkembangan structural pada suatu perekonomian. Tolak ukurnya yang terpenting antara lain: sumbangan sektor industry (manufacturing) terhadap PDB,jumlah tenaga kerja yang terserap disektor industry, dan sumbangan komoditi industry terhadap barang dan jasa. Sumbangan kegiatan industry terhadap PDB di indonesia menyumbang 8,4 persen terhadap PDB dan pada tahun 1980 meningkat menjadi 15,3 persen dan pada tahun 1985 diperkirakan lebih sedikit dari itu. Keadaan ini menunjukkan bahwa pada Pelita I Indonesia masih termasuk kategori negara non-industri (non industial country), maka pada Pelita V ini telah termasuk dalam kategori negara yang berada dalam proses industrialisasi (industrializing country).
3. INDUSTRI EKSTERNALITAS DALAM PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN
Dalam pelaksanaan pembangunan nasional yang berkelanjutan, sektor Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup perlu memperhatikan penjabaran lebih lanjut mandat yang terkandung dari Program Pembangunan Nasional, yaitu pada dasarnya merupakan upaya untuk mendayagunakan sumberdaya alam yang dipergunakan sebesar besarnya untuk kemakmuran rakyat dengan memperhatikan kelestarian fungsi dan keseimbangan lingkungan hidup, pembangunan yang berkelanjutan, kepentingan ekonomi dan budaya masyarakat lokal sertapenataan ruang.
Hasil KTT Pembangunan Berkelanjutan (World Summit on Sustainable Development - WSSD) di Johannesburg Tahun 2002, Indonesia aktif dalam membahas dan berupaya mengatasi kemerosotan kualitas lingkungan hidup, maka diputuskan untuk melaksanakan pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan generasi sekarang dan yang akan datang dengan bersendikan pada pembangunan ekonomi, sosial budaya, lingkungan hidup yang berimbang sebagai pilar-pilar yang saling tergantung dan memperkuat satu sama lain. Pembangunan berkelanjutan dirumuskan sebagai pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan hak pemenuhan kebutuhan generasi mendatang. Pembangunan berkelanjutan mengandung makna jaminan mutu kehidupan manusia dan tidak melampaui kemampuan ekosistem untuk mendukungnya. Dengan demikian pengertian pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pada saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi yang akan datang dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Konsep ini mengandung dua unsur :
• Yang pertama adalah kebutuhan, khususnya kebutuhan dasar bagi golongan
masyarakat yang kurang beruntung, yang amat perlu mendapatkan prioritas tinggi dari semua negara.
• Yang kedua adalah keterbatasan. Penguasaan teknologi dan organisasi sosial harus
memperhatikan keterbatasan kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan manusia pada saat ini dan di masa depan.
Hal ini mengingat visi pembangunan berkelanjutan bertolak dari Pembukaan Undang - Undang Dasar 1945 yaitu terlindunginya segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; tercapainya kesejahteraan umum dan kehidupan bangsa yang cerdas; dan dapat berperannya bangsa Indonesia dalam melaksankan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Dengan demikian, visi pembangunan yang kita anut adalah pembangunan yang dapat memenuhi aspirasi dan kebutuhan masyarakat generasi saat ini tanpa mengurangi potensi pemenuhan aspirasi dan kebutuhan generasi mendatang.
KELAS : 2 DD 03
NPM : 30208882
BAB 11
PEMBANGUNAN DAERAH
1. PENGERTIAN PEMBANGUNAN EKONOMI
Adalah untuk mengurangin disaparitas atau ketimpangan pembangunan antar daerah dan antar sub daerah serta antar warga masyarakat (pemerataan dan kedilan).
2. TEORI PERTUMBUHAN DAN PEMBANGUNAN EKONOMI DAERAH
Dalam zaman ahli ekonomi klasik, seperti Adam Smith dalam buku karangannya yang berjudul An Inguiry into the Nature and Causes of the Wealt Nations, menganalisis sebab berlakunya pertumbuhan ekonomidan factor yang menentukan pertumbuhan ekonomi. Setelah Adam Smith, beberapa ahli ekonomi klasik lainnya seperti Ricardo, Malthus, Stuart Mill, juga membahas masalah perkembangan ekonomi .
A.Teori Inovasi Schum Peter
Pada teori ini menekankan pada faktor inovasi enterpreneur sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi kapitalilstik.Dinamika persaingan akan mendorong hal ini.
B.Model Pertumbuhan Harrot-Domar
Teori ini menekankan konsep tingkat pertumbuhan natural.Selain kuantitas faktor produksi tenaga kerja diperhitungkan juga kenaikan efisiensi karena pendidikan dan latihan.Model ini dapat menentukan berapa besarnya tabungan atau investasi yang diperlukan untuk memelihar tingkat laju pertumbuhan ekonomi natural yaitu angka laju pertumbuhan ekonomi natural dikalikan dengan nisbah kapital-output.
C.Model Input-Output Leontief.
Model ini merupakan gambaran menyeluruh tentang aliran dan hubungan antarindustri. Dengan menggunakan tabel ini maka perencanaan pertumbuhan ekonomi dapat dilakukan secara konsisten karena dapat diketahui gambaran hubungan aliran input-output antarindustri. Hubungan tersebut diukur dengan koefisien input-output dan dalam jangka pendek/menengah dianggap konstan tak berubah .
D.Model Pertumbuhan Lewis
Model ini merupakan model yang khusus menerangkan kasus negar sedang berkembang banyak(padat)penduduknya.Tekanannya adalah pada perpindahan kelebihan penduduk disektor pertanian ke sektor modern kapitalis industri yang dibiayai dari surplus keuntungan.
E.Model Pertumbuhan Ekonomi Rostow
Model ini menekankan tinjauannya pada sejarah tahp-tahap pertumbuhan ekonomi serta ciri dan syarat masing-masing. Tahap-tahap tersebut adalah tahap masyarakat tradisional, tahap prasyarat lepas landas, tahap lepas landas, ahap gerakan ke arah kedewasaan, dan akhirnya tahap konsimsi tinggi
3. PARADIGMA BARU TEORI PEMBANGUNAN DAERAH
1. Perlu ada satu sistem birokrasi yang memiliki komitmen untuk mengutamakan pelayanan pada masyarakat sehingga bisa memberikan pelayanan yang efisien, biaya murah, dan tidak diskriminatif.
2. Perlu ada pemisahan sistem manajemen pengelolaan PNS yang bekerja di lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif untuk memperjelas tugas dan tanggung jawab masing-masing.
3. Perlu menerapkan prinsip-prinsip “tata kelola pemerintahan yang baik” dalam birokrasi.
4. Perlu melakukan sinkronisasi dan harmonisasi terhadap peraturan perundang- undangan yang mendukung reformasi birokrasi serta menyusun undang-undang tentang pelayanan publik, administrasi pemerintahan, dan perilaku aparatur.
5. Perlu merumuskan mekanisme keluhan publik terhadap PNS dan merumuskan sanksi pidana terhadap tindak pidana jabatan, dan membentuk undang undang tentang citizen law suit.
6. Perlu melakukan pembaruan hukum terhadap peraturan perundang-undangan mengenai birokrasi yang:
a. Berparadigma desentralisasi.
b. Berorientasi kepada pelayanan publik.
c. Berlandaskan pada prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan yang baik.
d. Menghapus ego sektoral.
e. Menutup semua celah yang manipulatif dan berpotensi KKN.
f. Populis dan responsif.
7. Perlu peningkatkan partisipasi publik dalam setiap tahap pembuatan peraturan perundang-undangan, khususnya yang berkaitan dengan pengawasan publik
4. PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
Suatu usaha yang sistematik dari beberapa pelaku (actor) baik umum publik atau pemerintah swasta maupun kelompok masyarakat lainnya pada tingkatan yang berbeda untuk saling ketergantungan dan keterkaitan aspek fisik social ekonomi.dan aspek lingkungan lainnya
5. TAHAP – TAHAP PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
• Perumusan dan penentuan tujuan
• Pengujian atau analisis opsi atau pilihan yang tersedia
• Pemilihan rangkaian tindakan atauk kegiatan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan dan disepakati.
6. PERAN PEMERINTAH DALAM PEMBANGUNAN DAERAH
1. Beberapa negara sedang berkembang mengalami ketidak stabilan sosial, politik, dan ekonomi. Ini merupakan sumber yang menghalangi pertumbuhan ekonomi. Adanya pemerintah yang kuat dan berwibawa menjamin terciptanya keamanan dan ketertiban hukum serta persatuan dan perdamaian di dalam negeri. Ini sangat diperlukan bagi terciptanya iklim bekerja dan berusaha yang merupakan motor pertumbuhan ekonomi.
2. Ketidakmampuan atau kelemahan setor swasta melaksanakan fungsi entreprenurial yang bersedia dan mampu mengadakan akumulasi kapital dan mengambil inisiatif mengadakan investasi yang diperlukan untuk memonitori proses pertumbuhan.
3. Pertumbuhan ekonomi merupakan hasil akumulasi kapital dan investasi yang dilakukan terutama oleh sektor swasta yang dapat menaikkan produktivitas perekonomian. Hal ini tidak dapat dicapai atau terwujud bila tidak didukung oleh adanya barang-barang dan pelayanan jasa sosial seperti sanitasi dan program pelayanan kesehatan dasr masyarakat, pendidikan, irigasi, penyediaan jalan dan jembatan serta fasilitas komunikasi, program-program latihan dan keterampilan, dan program lainnya yang memberikan manfaat kepada masyarakat.
4. Rendahnya tabungan-investasi masyarakat (sekor swasta) merupakan pusat atau faktor penyebab timbulnya dilema kemiskinan yang menghambat pertumbuhan ekonomi. Seperti telah diketahui hal ini karena rendahnya tingkat pendapatan dan karena adanya efek demonstrasi meniru tingkat konsumsi di negara-negara maju olah kelompok kaya yang sesungguhnya bias menabung.
5. Hambatan sosial utama dalam menaikkan taraf hidup masyarakat adalah jumlah penduduk yang sangat besar dan laju pertumbuhannya yang sangat cepat. Program pemerintahlah yang mampu secara intensif menurunkan laju pertambahan penduduk yang cepat lewat program keluarga berencana dan melaksanakan program-program pembangunan pertanian atau daerah pedesaan yang bisa mengerem atau memperlambat arus urbanisasi penduduk pedesaan menuju ke kota-kota besar dan mengakibatkan masalah-masalah social, politis, dan ekonomi.
6. Pemerintah dapat menciptakan semangat atau spirit untuk mendorong pencapaian pertumbuhan ekonomi yang cepat dan tidak hanya memerlukan pengembangan faktor penawaran saja, yang menaikkan kapasitas produksi masyarakat, yaitu sumber-sumber alam dan manusia, kapital, dan teknologi;tetapi juga faktor permintaan luar negeri. Tanpa kenaikkan potensi produksi tidak dapat direalisasikan.
BAB 12
HUTANG LUAR NEGERI DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA
1. MODAL ASING DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI
Alat pembayaran luar negeri yang tidak merupakan bagian dari kekayaan devisa Indonesia, yang dengan persetujuan Pemerintah digunakan untuk pembiayaan perusahaan di Indonesia.
Alat-alat untuk perusahaan, termasuk penemuan-penemuan baru milik orang asing dan bahan-bahan, yang dimasukkan dari luar ke dalam wilayah Indonesia, selama alat-alat terse-but tidak dibiayai dari kekayaan devisa Indonesia.
Bagian dari hasil perusahaan yang berdasarkan Undang-undang ini diperkenankan ditransfer, tetapi dipergunakan untuk membiayai perusahaan di Indonesia.
Adapun modal asing dalam Undang-undang ini tidak hanya berbentuk valuta asing, tetapi meliputi pula alat-alat perlengkapan tetap yang diperlukan untuk menjalankan perusahaan di Indonesia, penemuan-penemuan milik orang/badan asing yang dipergunakan dalam perusaha¬an di Indonesia dan keuntungan yang boleh ditransfer ke luar negeri tetapi dipergunakan kembali di Indonesia.
2. MOTIVASI NEGARA DONOR
Tentunya kepentingan motivasi berbeda antarnegara. Kalau dinilai secara menyeluruh, sulit diketahui motivasi mana yang harus diperhatikan oleh negara penerima. Kalau dinilai secara pragmatis, akan sangat masuk akal bila kepentingan pemasok dan investor negara donor yang lebih menonjol.
ada motivasi lain, dan belum tentu kehendak negara donor sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan negara penerima.
Nilai-nilai yang dianut di negara donor berbeda dengan negara penerima utang. Walau negara pengutang menyanggupi melakukan semua kehendak negara donor, belum tentu bantuan luar negeri akan tidak dikurangi atau ditingkatkan. Sebaliknya, kalau misalnya negara peminjam tak melakukan kehendak donor, belum tentu pula bantuan luar negeri akan dikurangi.
Bantuan luar negeri yang terkait adalah contoh penggunaan senjata ekonomi untuk mencapai tujuan negara donor. Bentuknya bisa ekonomi, bisa juga nonekonomi. Banyak contoh betapa senjata seperti itu ternyata tumpul.
Masalahnya di sini bukan karena kehendak donor, seperti kelestarian lingkungan dan pengurangan kemiskinan, tak penting untuk negara berkembang dibanding tujuan pertumbuhan. Tapi menggunakan senjata bantuan luar negeri tidak tepat, bahkan tumpul, mengingat motivasi yang beragam. Keinginan untuk pertumbuhan yang berkesinambungan (equitable growth) sudah seharusnya jadi tujuan tersendiri, dan tak perlu dikaitkan dengan pemberian bantuan luar negeri.
3. SUMBER – SUMBER PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN DAERAH
Desentralisasi telah menyebabkan perubahan mendasar dalam tatanan pemerintahan, sehingga terjadi perubahan pula dalam peran dan fungsi daerah dalam mengelola dan mengembangkan dirinya. Dalam kaitan dengan hal tersebut, pemerintah juga telah mengeluarkan kebijakan tentang desentralisasi bidang kesehatan yang mengatur pola hubungan pusat dan daerah.
4. STRUKTUR PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN
Pendekatan yang digunakan dalam memahami konsep dan teori penanaman modal asing adalah pendekatan ekonomi industri. Hymer (1966) dan Kindleberger (1969) menjelaskan bahwa perusahaan MNCs memiliki keunggulan teknologi dan deferensiasi produk, sehingga memungkinkan perusahaan untuk beroperasi pada pasar persaingan monopolistik.
Teori siklus produk yang dikembangkan oleh Veron (1966) mengungkapkan bahwa produk baru yang diproduksi di USA didasari oleh ciri khusus pada perekonomian USA, misalnya pendapatan per kapita yang tinggi. Pasar negara-negara industri (Eropa dan Jepang) akan dipenuhi oleh ekspor dan produksi dari negara tersebut. Lokasi industri pada akhirnya akan bergerak dari negara-negara industri maju menuju negara-negara sedang berkembang yang memiliki biaya produksi dan tenaga kerja yang lebih rendah.
BAB 13
PERTUMBUHAN EKONOMI DALAM KONSEP PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN
1. PERANAN LINGKUNGAN DALAM PEREKONOMIAN
Pengelolaan lingkungan termasuk pencegahan, penanggulangan kerusakan dan pencemaran serta pemulihan kualitas lingkungan telah menuntut dikembangkannya berbagai perangkat kebijaksanaan dan program serta kegiatan yang didukung oleh sistem pendukung pengelolaan lingkungan lainnya. Sistem tersebut mencakup kemantapan kelembagaan,sumberdaya manusia dan kemitraan lingkungan, disamping perangkat hukum dan perundangan,informasi serta pendanaan. Sifat keterkaitan (interdependensi) dan keseluruhan (holistik) dari esensi lingkungan telah membawa konsekuensi bahwa pengelolaan lingkungan, termasuk sistem pendukungnya tidak dapat berdiri sendiri, akan tetapi terintegrasikan dan menjadi roh dan bersenyawa dengan seluruh pelaksanaan pembangunan sektor dan daerah.
Lingkungan memegang peranan penting dalam perekonomian, lingkungan seringkali dikaitkan dengan proses industrialisasi. Proses industrialisasi ini sebenarnya merupakan satu jalur untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dalam arti tingkat hidup yang lebih maju maupun taraf hidup yang lebih bermutu. Dengan kata lain pembangunan industri merupakan suatu fungsi dari tujuan pokok kesejahteraan rakyat bukan nerupakan kegiatan yang mandiri hanya untuk mencapai fisik saja. Industrialisasi juga tidak terlepas dari usaha untuk meningkatkan mutu SDM dan kemampuannya memanfaatkan secara optimal sumber alam dan sumber daya lainnya.
2. INDUSRTIALISASI DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN
Industri mempunyai peranan sebagai sektor pemimpin ( leading sector ). Leading sector ini maksudnya adalah dengan adanya pembangunan industri maka akan memacu dan mengangkat pembangunan sektor-sektor lainnya seperti sector pertanian dan sektor jasa misalnya pertumbuhan industri yang pesat akan merangsang pertumbuhan sektor pertanian untuk menyediakan bahan-bahan baku bagi industri. Sektor jasa pun berkembang dengan adanya industrialisasi tersebut, misalnya berdirinya lembaga-lembaga keuangan, lembaga-lembaga pemasaran/periklanan dan sebagainya, yang kesemuanya itu nati akan mendukung lajunya pertumbuhan industri.
Dari uraian diatas bisa ditelaah peranan industry dalam perkembangan structural pada suatu perekonomian. Tolak ukurnya yang terpenting antara lain: sumbangan sektor industry (manufacturing) terhadap PDB,jumlah tenaga kerja yang terserap disektor industry, dan sumbangan komoditi industry terhadap barang dan jasa. Sumbangan kegiatan industry terhadap PDB di indonesia menyumbang 8,4 persen terhadap PDB dan pada tahun 1980 meningkat menjadi 15,3 persen dan pada tahun 1985 diperkirakan lebih sedikit dari itu. Keadaan ini menunjukkan bahwa pada Pelita I Indonesia masih termasuk kategori negara non-industri (non industial country), maka pada Pelita V ini telah termasuk dalam kategori negara yang berada dalam proses industrialisasi (industrializing country).
3. INDUSTRI EKSTERNALITAS DALAM PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN
Dalam pelaksanaan pembangunan nasional yang berkelanjutan, sektor Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup perlu memperhatikan penjabaran lebih lanjut mandat yang terkandung dari Program Pembangunan Nasional, yaitu pada dasarnya merupakan upaya untuk mendayagunakan sumberdaya alam yang dipergunakan sebesar besarnya untuk kemakmuran rakyat dengan memperhatikan kelestarian fungsi dan keseimbangan lingkungan hidup, pembangunan yang berkelanjutan, kepentingan ekonomi dan budaya masyarakat lokal sertapenataan ruang.
Hasil KTT Pembangunan Berkelanjutan (World Summit on Sustainable Development - WSSD) di Johannesburg Tahun 2002, Indonesia aktif dalam membahas dan berupaya mengatasi kemerosotan kualitas lingkungan hidup, maka diputuskan untuk melaksanakan pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan generasi sekarang dan yang akan datang dengan bersendikan pada pembangunan ekonomi, sosial budaya, lingkungan hidup yang berimbang sebagai pilar-pilar yang saling tergantung dan memperkuat satu sama lain. Pembangunan berkelanjutan dirumuskan sebagai pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan hak pemenuhan kebutuhan generasi mendatang. Pembangunan berkelanjutan mengandung makna jaminan mutu kehidupan manusia dan tidak melampaui kemampuan ekosistem untuk mendukungnya. Dengan demikian pengertian pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pada saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi yang akan datang dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Konsep ini mengandung dua unsur :
• Yang pertama adalah kebutuhan, khususnya kebutuhan dasar bagi golongan
masyarakat yang kurang beruntung, yang amat perlu mendapatkan prioritas tinggi dari semua negara.
• Yang kedua adalah keterbatasan. Penguasaan teknologi dan organisasi sosial harus
memperhatikan keterbatasan kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan manusia pada saat ini dan di masa depan.
Hal ini mengingat visi pembangunan berkelanjutan bertolak dari Pembukaan Undang - Undang Dasar 1945 yaitu terlindunginya segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; tercapainya kesejahteraan umum dan kehidupan bangsa yang cerdas; dan dapat berperannya bangsa Indonesia dalam melaksankan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Dengan demikian, visi pembangunan yang kita anut adalah pembangunan yang dapat memenuhi aspirasi dan kebutuhan masyarakat generasi saat ini tanpa mengurangi potensi pemenuhan aspirasi dan kebutuhan generasi mendatang.
Langganan:
Postingan (Atom)
